"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)



Assalamu'alaikum.

Sudah lama tidak update blog. Maklum kegiatan sehari-hari begitu saja, jadi makin membuat rasa malas meningkat. Hahaha. Sorry.

Tapi sore ini, karena merasa jenuh di rumah lantaran besok hari raya Idul Adha jadi gue memutuskan untuk jalan-jalan motoran sebentar sembari ingin membeli bunga. Sayangnya nih setelah melewati toko bunga gue membatalkan niat itu, lantaran kebun di rumah juga ada beberapa bunga kertas yang belum kepotong jadi ingin lebih berhemat aja.

Menuju perjalanan pulang, gue sama aahva sengaja lewat belakang Masjid Agung Cirebon. Entah kenapa hati ini kepincut ingin mencoba restoran steak dengan bangunan beraksen jawa. Namanya Al Ghiff Steak. Al Ghiff ini restoran steak khalal.



 

Kalau menurut gue, harga makanan relatif terjangkau. Sedangkan untuk rasa makanan, gue memesan Double Chicken steak. Dibandingkan dengan Waroeng Steak, rasanya lebih enak di Waroeng Steak sih. Di Al Ghiff ayamnya kurang juicy, krispi-nya juga agak keras, sedangkan kuah saus steaknya kurang nendang rasanya. Untuk minuman, es teh nya kurang gimana gitu, sedangkan lemon tea-nya juga kurang asem dan teh.

Jika penasaran monggo dicoba sendiri yah, maklum beda lidah kan beda rasa. Betul tidak. Tulisan ini sekian dulu yah. Terima kasih sudah menemani membaca. Sehat selalu, bahagia selalu. 






Disclaimer, di bawah ini bonus foto kenangan pribadi yah. Jangan julid. Hidup gue tak seberuntung kamu soalnya.

Cirebon, 28 June 2023 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal 

 


Alhamdulillah.

Beberapa waktu lalu setelah lebaran teman kuliah berkunjung ke rumah, mereka dari Bandung. Siapa sangka teman kuliah yang kenal melalui acara sosial alhamdulillah masih bisa saling silaturahmi meski tidak setiap saat. Alhamdulillah.

Salut sih gue dengan mereka, apalagi sama istri Hamdan ini. Dia tergolong wanita yang nikah muda, di saat yang sama dia harus mendidik 3 anak di usia yang terbilang berdekatan. Wow sih. Tapi yang jelas, bahwa mereka ini menurut gue untungnya bisa saling kerja sama dalam berkeluarga.

At the end. Gue merasa sangat bersyukur, ada nama gue di hati temen gue.

Cirebon, 10 May 2023 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal 

 

friends

Assalamu'alaikum,

Rasanya baru kemarin gue pulang kerja kantor Jakarta. Tiap minggu main ngumpul bareng temen-temen di tempat kerja Om DC. Oh ternyata itu sekitaran tahun 2015? Karena gue mulai di Jakarta tahun itu. Sekedar nebeng internet, makan bareng, nonton bareng dan gue masih wira-wiri sama motor vario merah gue. Oh god, sudah selama itu bersama gue.

Again waktu begitu cepat berlalu, mungkin karena kita masing-masing sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing.  Duka dan bahagia masing-masing. Sering dan berkali-kali gue rindu dengan masa itu. Hanya saja gue lebih sering diam dan mengamati diam-diam bagaimana keadaan mereka. 


Kini gue paham kenapa "Silaturahmi dapat memanjangkan umur", menurut gue "silaturahmi" di sini bukan karena tambahan waktu yang diberi Tuhan karena sejatinya waktu sudah ditentukan sejak dulu. Tapi penghayatan tentang bagaimana kita "Ingin hidup" di dunia ini yang lebih lama. Entah sudah berapa lama waktu yang gue buang hanya karena merasa "Sendiri" dan "Tidak ada alasan lagi" untuk hidup di dunia ini, jenuh dan lelah setiap hari. Akhirnya gue sendiri paham makna "Silaturahmi".

Duh dasar gue, ga bisa berkata-kata apalagi berucap panjang lebar. Gue cuma bisa berdoa, "Oh Allah terima kasih. Terima kasih bahwa engkau menghadirkan teman-teman ini, semoga engkau menganugerahkan bahagia dan kesehatan selalu, rezeki yang semakin luas. Kecukupan dan keberkahan harta untuk kami semua. Aamin."

Cirebon, 18 Maret 2023 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal 

SIM Baru Indonesia


SIM gue sebulan lagi masa berlakunya habis. Karena gue takut kelupaan akhirnya gue perpanjang aja. Perpanjang SIM sebulan sebelum masanya. Awalnya gue bingung karena KTP dan SIM lama gue bukan alamat domisili yang sekarang, selain itu sekarang kan masih Korona. Gue sekarang tinggal di Bandung dan KTP gue Solo, sedangkan SIM lama gue Boyolali.

Setelah gue cari-cari informasi di dunia maya. Akhirnya gue ada harapan untuk memperpanjang SIM Luar Kota Di Bandung. Gue pilih lokasi perpanjang SIM di Gerai Utama Perpanjang SIM Online Bandung (Festival Citylink).
Gue berangkat pagi-pagi ke Festival Citylink dengan bawa bayi tentunya. Maklum bayi gue sepaket sama gue kalau kemana-mana. Gue agak cemas si kalau bakal diusir petugas karena bawa bayi tanpa bawa pendamping lain.

Sesampainya di sana emang sih muter-muter kaya gangsing. Gue harus ke lantai 2 melalui bagian paling belakang mall. Habis itu gue harus ke parkiran buat antri dengan menaruh SIM. Nah saat itu gue ditawarin tuh sama bapak-bapak buat diproses lebih cepet (calo dalam sepertinya). Cuma waktu itu gue bilang mau nyobain perpanjang sendiri dulu. Sambil nunggu antrian dipanggil buat antri lagi di depan loket untuk tes kesehatan. Sembari nunggu gue cerita tuh tentang calo sama suami, dan alhamdulillah suami bilang ga usah.



Lumayan agak bosan nunggu panggilannya. Gue hampir-hampir nyerah. Terus untungnya setelah rasa menyerah itu dipanggillah nama gue. Naik kemudian antri lagi di depan gerai. Anak gue udah mulai bosen, jadilah gue putuskan untuk ajak jalan-jalan di sekitaran. Apesnya toko-toko pada belum buka (Iyalah orang masih pagi).



Setelah beberapa lama, akhirnya gue dapat panggilan tes kesehatan. Alhamdulillah lancar. Meski anak gue teriak-teriak. Tes kesehatannya meliputi tes tekanan darah (tensi), tes mata, timbangan, dan tinggi badan. Setelah rangkaian tes kita harus membayar biaya tes sebesar Rp. 50.000,00. Dari tes kesehatan kita akan diberi satu bendel kertas dan SIM lama kita.

Bendelan berkas itu harus kita serahkan ke loket 2 yang kemudian kita menunggu antrian lagi untuk verifikasi dan pengisian form biru. Karena gue bawa bayi tanpa pendamping, petugas loket membantu gue. Gue cukup memberikan tanda tangan dan menjawab pertanyaan aja. Setelah berkas selesai kita akan dipanggil lagi untuk pembayaran sebesar Rp. 135.000,00 (SIM C) dan kita disuruh untuk menyerahkan formulir ke loket 5 untuk antri foto dan tanda tangan. Setelah foto dan tanda tangan kita harus menunggu lagi untuk panggilan hasil cetak SIM. Ketika cetak SIM kita akan ditanyai mau diberi laminasi biar awet atau tidak. Jika iya maka kita perlu membayar Rp.10.000,00.

Dan setelah hasil cetaknya jadi proses perpanjang SIM selesai. Nah SIM di Indonesia sekarang berbeda dengan yang dulu. Gue ga tahu sih kapan berubahnya. Jika dulu berwarna biru sekarang berwarna merah seperti gambar yang paling atas.

Semoga informasi ini membantu temen-temen yaaa. See you on my next stories.
Ah informasi ini membantu, bantu saya dengan subscribe youtube channel saya yah. Klik di SINI untuk linknya. Thank you.

Bandung, 20 November 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album

Leboh (Kepulauan Riau), 2018


Alhamdulillah bisa posting pertama setelah saya menyandang status #IstriBapakRiyan. Perjalanan menjadi seorang istri tak mudah memang, berawal dari merasa #guemasihsingle (karena selama satu bulan lebih saya dan suami harus LDR. Beliau di Bandung dan saya di Jakarta) sampai benar-benar menjadi istri.

***

Hunting tiket sudah kami lakukan setelah kami menikah, namun apa daya tetap saja berakhir dengan cuci mata saja yang pada akhirnya tiket terbeli 1-2 bulan menjelang keberangkatan yang nyatanya tiket lumayan mahal guys.

Kami memasuki ramadhan, ah rasanya ada yang hilang. Jikalau tahun lalu saya banyak berkutat dengan masjid dan anak-anak kecil. Kali ini berbeda, saya lebih banyak berkutat di rumah. Karena begitulah yang suami awak mau. Sedih pastilah, tapi saya percaya akan janji Allah kepada hamba-Nya. 

2 Minggu sebelum keberangkatan. Sudah hampir satu minggu ada yang salah dengan badan saya. Terlalu sering mual, dan saya merasa badan ini mulai mudah lelah. Lalu saya mulai memberanikan diri mencari informasi tentang tanda-tanda kehamilan. Saat saya sudah merasa tidak sanggup lagi menahan mual dan muntah, akhirnya kami membeli testpack. Saya tertegun melihat hasilnya, berfikir "Begini ya kalau hamil? Dua strip merah?" lalu saya foto hasil testpack-nya dan langsung saya kirim ke telegram suami awak. Balasan datar melayang dari beliau, "hamil". Sesudahnya kami memutuskan untuk periksa kehamilan ke dokter kandungan. Dokter yang berjodoh dengan bayik adalah Dr. Hanny Rono di RS. Santosa Hospital.

Dr. Hanny tak langsung melakukan USG kepada bayik, beliau bilang akan percuma karena bayik masih kecil dan baru berupa kantong saja. Menjelang pulang seusai konsultasi kami diberi oleh-oleh Muratal Quran untuk diselesaikan khatam ketika ramadhan. Alhamdulillah.

***

Bismillah ya bayik, kita mudik. Mamah tau bayik kuat. Mamah sayang bayik, pabun juga sayang bayik. Let's go!!!
Perjalanan panjang kami mulai bertiga. Sebenarnya banyak yang khawatir, karna umur bayik masih sangat kecil. Mamahnya yang tak sekuat ketika lajang pun jadi penambah haru suasana. Tengah malam kami menuju ke Stasiun Kiara Condong untuk keberangkatan ke Jakarta. Kami sampai di Jakarta menjelang subuh. Kemudian kami langsung memesan go-car menuju Bandara Soekarno Hatta. Setelah menunggu sejenak di Bandara, akhirnya kami terbang menuju Batam. Dalam hati tak henti-hentinya saya bersyukur, akhirnya saya bisa sampai di bagian utara Indonesia selain Bangka Belitung. Mengingat memori masa lalu yang hampir hilang, ternyata dulu suami awak pernah berujar bahwa ia akan membawa saya ke Riau. Saya pikir dulu itu hanya bualan semata, karena kami masih remaja. Tentu saja itu saya anggap hanyalah rayuan cowo tengil kepada seorang wanita.

Sesampainya di Batam, kami langsung menuju Pelabuhan Sekupang untuk menuju ke Balai Karimun. Lalu dilanjutkan perjalanan ke Pulau Leboh. Kapal di sini banyak dan jadwal keberangkatannya berbeda-beda. Perjalanan dari Batam menuju Balai Karimun kurang lebih satu setengah jam. Kami menggunakan kapal Miko. Kata suami awak, nama perusahaan PT. Miko Natalia diambil dari nama pasangan suami istri. 

Sesampainya di Balai Karimun, kami sudah di jemput oleh Bulek Tini. Beliau adalah istri dari Om Man. Awalnya kami berfikir akan meginap semalam di Balai. Dalam hati saya berdoa, agar kami bisa langsung sampai ke Leboh tanpa menginap di Balai. Doa saya ternyata diijabah oleh Allah. Setelah bulek bertanya ke sana kemari, alhamdulillah ada jadwal kapal menuju Pulau Leboh. Kami pun langsung memutuskan untuk berangkat ke Leboh menggunakan kapal Miko lagi.

Di kapal saya memutuskan untuk duduk di dekat pintu masuk kapal atas ijin dari suami awak. Banyak orang bertanya menggunakan Bahasa Melayu, dan itu sukses membuat saya cengoh (tidak paham). Saya tak mengerti sedikitpun pertanyaan-pertanyaan orang melayu ini. Saya lebih sering menjawab pertanyaan dengan senyum.

Sepanjang perjalanan, saya lebih sering mengobrol dengan bayik. Beberapa rayuan kepada bayik semisal agar ia kuat, bayik hebat bisa ikut mudik, bayik sebentar lagi bertemu dengan uyut dan masih banyak lagi perbincangan dengan bayik yang hanya saya dan bayik yang tahu apa isi perbincangan kami. Sembari memandangi lautan lepas, kapal beberapa kali berhenti di beberapa pulau untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Beberapa pulau itu antara lain Buru, Penara dan ada beberapa lagi yang saya sudah lupa.

Sesampainya di Leboh kami dijemput oleh Om Man dan Dek Sekar. Jarak antara rumah Tuk dengan pelabuhan sangat dekat. Hanya membutuhkan waktu 3 menit (bahkan kurang) untuk sampai di rumah Tuk. Kami lelah sekali, sambil selonjoran kami menunggu waktu berbuka. Waktu berbuka di Leboh terasa sangat lama. Hanya hamdalah dan istighfar yang mampu membunuh waktu kala itu.

***

Pengalaman ajaib di Leboh adalah waktu terasa sangatlah lama padahal sama saja dengan waktu di belahan Bandung atau Jakarta. Selain itu jika kalian adalah anak milineal yang tiap waktu dan tiap saat tak bisa lepas dengan internet maka Leboh adalah neraka guys. Only Telkomsel yang ada sinyal, itupun E jika belum jam 5 sore sampai 7 pagi, di luar jam itu maka kalian akan tercengang mendapatkan H+. Bersabar adalah senjata pertama dan terakhir jika ingin berinternetan di Leboh. Selain itu, listrik pun menyala di jam yang sama. Suami awak bercerita bahwa kondisi saat ini di Leboh jauh lebih baik dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, sebelum ada pembangunan oleh pemerintah. Lantas aku pun berfikir, kenapa baru pemerintahan sekarang (Pemerintahan Jokowi) yang mau memikirkan daerah pelosok Indonesa, kenapa dari dulu selalu pulau Jawa? Ah sugguh, terima kasih Pak Jokowi.

***

Lebaran kali ini berbeda, karena statusku baru. Karena aku mempunyai keluarga baru. 
Pagi-pagi aku begitu bahagia karena Allah menyampaikanku pada Ied 1439H ini dengan adanya bayik dalam rahimku. Dengan penuh semangat aku mengenakan baju yang sudah aku persiapkan ketika di Bandung untuk menyambut lebaran kali ini. Tak baru memang, tapi istimewa. Baju pemberian suami sebagai seserahan pernikahan. Ketika shalat ied, entah kenapa tiba-tiba saja air mata mengalir begitu saja mengingat tahun ini aku hanya mampu mengirim barang ke rumah orang tuaku tanpa kehadiranku di lebaran kali ini. Selesai shalat, saya pulang ke rumah Tuk. Ada sedikit sesak rasanya. Saya membayangkan bagaimana beratnya mamah berlebaran di rumah sendirian. Saya pun tidak bisa berbuat apapun, tak ada sinyal. Saya hanya berharap semoga mamah mengerti dan keluarga yang lain pun melakukan hal yang sama.

Berbeda daerah, berbeda budaya. Dan itulah yang aku lihat kali ini. Di Leboh tak ada kebiasaan sungkeman sebagai tanda wujud permintaan maaf dari yang paling muda ke yang paling tua seperti di Jawa. Tak ada memberi uang jajan untuk anak-anak kecil juga. Mungkinkah tradisi ini yang membuat seseorang menjadi malas untuk meminta maaf dan berterima kasih? Entahlah.

***

Hari berlalu, dan akhirnya saya akan segera mengakhiri masa liburan di Leboh. Sehari sebelum penerbangan kami menginap di rumah Om Man (Balai Karimun). Dari Leboh saya berangkat terlebih dahulu dengan bulek Tini ke Balai Karimun. Rasanya surga, akhirnya bisa menikmati listrik 24 jam, akhirnya bisa mendapatkan sinyal, dan yang paling berharga adalah saya bisa berkeliling di Balai.

Saya dan bulek berkeliling menggunakan motor, rasanya sangat nikmat. Keinginan untuk makan mie ayam pun akhirnya terwujud, dan rasa mie ayam-nya JUARA guys. Enak sekali. Super duper mantap. Dan di sinilah saya baru paham kalau KEPRI itu adalah singkatan dari Kepulauan Riau. Oh my lord. 

Sore harinya om Man dan suami baru tiba di Balai. Dari penjelasan suami,  ada beberapa kapal yang melewati Leboh namun tak mengambil penumpang di Leboh yang kemudian ketika kembali ke rumah, Tuk menertawakan suami awak. Alhasil mereka baru berangkat ketika sore menjelang.

Bandara Hang Nadim Batam

Salah Satu Pulau Sebelum Sampai di Leboh

Pelabuhan Leboh yang Tidak Jauh dari Rumah Tuk

Masjid Sholat Tarawih dan Ied yang Tidak Jauh dari Rumah Tuk

Balai Karimun, Rumah Om Man

Bakso Arema, Mie Ayam Super Lezat

Bus Kota Balai Karimun

Steak Ala Bulek Tini

Bandung, 30 Juni 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album



***

Lelah mungkin adalah kata yang tepat untuk mengungkapkan beberapa rasa. Seperti perjuangan hidup yang kamu lakukan dari A-Z, terasa sia-sia, terasa menyakitkan. Semuanya menjadi debu yang berterbangan di angkasa luas, tak bersisa.

Tersisa beberapa bait sajak istighfar dan teriakan yang hanya kamu dendangkan dalam hati untuk rabb-Mu.

Kamu tak mengerti bagaimana harus mengakhiri kali ini, telah berulang kali kamu berjuang menyelesaikan semuanya dengan perkataan ataupun perbuatan. Namun tetap saja kamu kalah.


Ya Tuhanku yang maha baik, maha pemaaf, maha menghapuskan dosa. Bolehkah aku bahagia dan tersenyum? Bolehkah di sisa hidupku ini aku semakin taat kepadamu, bahagia berada pada jalan-Mu tanpa keadaan yang memaksa sehingga aku jauh darimu? Ya tuhanku, aku berharap bahwa aku menjadi golonganmu. Maka berikanlah aku pasangan hidup yang saleh, yang mencintai-Mu dan rasul sebagai cinta utamanya. Pasangan hidup yang berjuang di atas sunnah-Mu. Pasangan hidup yang dengannya aku menjadi kuat, ia pun begitu.

Akhirnya saat ini kamu mengambil langkah, dan sisa-nya biarkan Tuhan yang urus. Yakin saja, bahwa yang kau perjuangkan saat ini adalah bukti ketundukanmu pada Tuhanmu. Untuk cinta yang kamu lepaskan nantinya, untuk masalalu yang telah berlalu, maafkanlah dirimu, mulailah semua dengan langkah yang gagah berani melalui jalan Tuhanmu. Semoga Tuhan menjawab semua pintamu.

Kaulah maut menjemputmu, semoga Rabb-Mu tahu bahwa kamu telah berjuang dan berusaha. Dan semoga maut menjemputmu dengan cara yang indah, semoga kamu telah disediakan rumah kecil di Surga. Kamu Jangan menangis.

Yah begitulah kiranya apa yang tertuang di otakku senja itu di Pantai Ancol. Bersama kawan kerja, yang mau aja aku ajakin jalan-jalan. Hahahaha.

    Jakarta, 13 November 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
    Image Source: Personal Album

Pantai Anyer

Pantai anyer menyisakan bukti akan sejarah Indonesia. Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Anyer Panarukan adalah jalan raya sepanjang 1000 KM yang dibangun pada pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1809-1810). Sampai saat ini Jalan raya itu menyisakan sakit dan pilu yang mendalam. Karena sejarah mencatat Pembangunan jalan raya itu sangat kejam, banyak warga pribumi meninggal.

***
Sesampainya di laut ku khabarkan semuanya,
Kepada karang kepada ombak kepada matahari,
Tetapi semua diam, tetapi semua bisu,
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit,
Barangkali di sana ada jawabnya,
Mengapa di tanahku terjadi bencana,

Mungkin Tuhan mulai bosan,
Melihat tingkah kita yang selalu,
Salah dan bangga dengan dosa-dosa,
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita,
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang,
- Lirik by Ebiet G. Ade

Lagu yang tepat untuk tempat yang tepat. Kali ini adalah liburan saya ke Pantai Anyer. Liburan ini terhitung liburan tak terduga. Karena setelah menikmati senja di Pantai Ancol saya tidak mengagendakan liburan ke pantai.

Pantai Anyer

Travelling Ke Pantai Anyer
Bagi saya pantai adalah tempat yang membuat saya selalu terpukau, yah walaupun hanya tentang air dan langit. Tapi bagi saya sendiri pantai memberikan ruang sendiri dalam hati saya. Entah itu suasana bagus atau tidak.

Sunset di Pantai Anyer

Ada pepatah bilang "Adanya kamu, pasti ada suatu hal yang tersembunyi di dalamnya. Kamu yang akan memberikan manfaat atau kamu diberi manfaat olehnya atau bahkan keduanya". Perjalanan ini pula yang memberikan saya pemahaman lebih mendalam tentang "EGO".

Ego adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada objek dari kenyataan dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan (Koeswara 1991: 33-34). Ego tampak sebagai pikiran dan pertimbangan (Ahmadi 1992: 152). Tugas ego adalah untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjamin penyesuaian dengan alam sekitar (Bertens 2002: 71).

Saat itu kami mendapatkan masalah yang cukup seru. Dari masalah tersebut saya mampu menilai, bahwa begitu besarnya ciptaan Tuhan. Begitu kita terlalu kerdil untuk tidak mau menghamba kepadanya. Kami hanya beberapa orang, namun cara kami memandang dan menyelesaikan masalah begitu beragam. Ada si A yang bertahan dengan aturan perdunia bisnisan, ada B yang bertahan dengan emphaty yang besar. Ada lagi yang lain memandang kedua penalaran sikap di sisi tengahnya. Dan masih banyak lagi pendapat yang lain.

Lantas ego yang seperti apakah yang baik? Menurut saya pribadi tak ada ego yang terbaik, namun ego yang betul adalah ego yang kita sandarkan kepada mau-nya Tuhan, ridha-nya Tuhan. Dengan hal itu kita mampu bersikap sebagaimana menjadi manusia yang memberikan banyak manfaat, bukan menjadi manusia yang merusak dan menyakiti makhluk lain.


Jakarta, 10 Oktober 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source:  Personal Album


Training for Trainer

Tiba-tiba undangan itu masuk ke whatsappku. Tanpa ragu akupun menyambut dengan suka cita undangan itu. Maklum karena materinya adalah Palestina.

Jangan pernah melewatkan kesempatan (amanah) karena barang kali kesempatan itulah yang membawamu ke pintu Surga-Nya.
- Anita Sari Sukardi
***

Sayangnya aku hanya bisa hadir satu hari. Namun satu hari saja membuatku sangat bersyukur, begitu juga peserta yang lain pastinya. Sebagian peserta adalah ibu-ibu yang usianya jauh lebih tua dari aku. Namun semangatnya Masyaallah.

Aku merasa begitu kecil, selain kalahnya semangatku dibanding peserta yang lain masih banyak hal yang perlu aku punya setelahnya. Aku harus belajar lebih banyak. Aku harus bermanfaat lebih serius dan konsisten. Dan aku harus memanfaatkan kemampuanku di bidang Information Technology ini.


Training for Trainers Palestine

Tak ada air mata yang sia-sia pada hari itu. "Kemenangan tak akan pernah digapai seorang diri, kemenangan akan terjadi jika Allah menginginkannya menang".  Kami berjuang bersama. Ikut andil bersama dalam kemenangan ini. Kemenangan yang tak akan lama lagi.

Apa yang akan berbeda dengan adanya kamu dalam kegiatan/acara ini? Mengapa kamu perlu ada? Mengapa kamu dan bukan orang lain sementara setiap orang di sini memiliki kesempatan yang sama?”
- Novioctavia
Dan aku percaya, pasti akan ada suatu hal baik yang akan terjadi. Meskipun kecil namun pasti. Berbahagialah karena Allah memilih kita berada di tempat ini, di detik ini.

Jakarta, 26 September 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Adara & Personal Album


Saturday School Session 2
Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.

(HR Muslim: 1631)
***

Siang itu Jakarta seperti terkena tumpahan panasnya neraka saudara. Dan jikalau kita memiliki begejibun agenda di luar pastilah kita akan merasa ogah-ogahan tak bersemangat. Hal itu pun tak luput dari kelemahan saya. Namun saya tetap berusaha melawan setan dan tetap datang ke lokasi Acara Potluck Ke 2 anak-anak BAPER untuk agenda Saturday School Session 2.

Team of Saturday School Session 2
Team of Saturday School Session 2

Jika saudara belum tahu apa itu Saturday School bisa stalking ke www.akuanakbaper.org saja ya. Saturday School Session 2 ini mungkin banyak hal yang baru. Tempat belajar, object yang diambil, tema dan konsep belajarnya.

Selain itu bagi saya sendiri Saturday School 2 merupakan kesempatan awal lagi untuk saya untuk menjadi pribadi yang berakhlak lebih baik dari sebelumnya. Jika di Saturday School 1 belum maksimal dan totalitas, mungkin saat ini adalah kesempatan untuk bisa totalitas. Mungkin sedikit memaksakan diri, namun apalah kita jika kita tidak mau memaksakan diri untuk hal yang baik. Toh dunia ini cuma tempat persinggahan sementara saja.

Alhamdulillah di Saturday School 2 ini, saya diamanahi menjadi Wakil Kepala Sekolah, hal ini adalah kesempatan yang Allah berikan kepada saya untuk belajar sebelum nantinya nanti Allah meridhai saya untuk memiliki sekolah sendiri. Cita-cita terbesar saya adalah mempunyai Yayasan (Nithairas Foundation) yang saya sendiri akan mengelolanya, mengawasinya dan memastikan bahwa yayasan ini berjalan sesuai dengan syariat islam (insyaallah).

Berbekal mimpi itu, semoga proses belajar dan mengumpulkan bekalnya Allah mudahkan. Allah kuatkan saya pada setiap ujiannya. "Ujian terberat seorang hamba adalah berperang dengan diri sendiri", dan semoga saya tak akan pernah kalah dengan diri saya sendiri.

Jakarta, 17 September 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: BAPER Team

Kelas Inspirasi Jakarta 2017 (Angkatan 6)

Padamu anak-anakku, aku titipkan masa depan negeri ini di tangan kalian. Namun saat ini kalian di tangan kami.
- Anita Sari Sukardi

Aku yang sedang menikmati segarnya Ice Lecci (Minuman kesukaan pengganti Ice Kopi Hitam) di salah satu sudut di Cafe Bugis Kafetiam tersenyum mengingat kala itu.

Beginilah aku yang selalu menghabiskan cuti untuk kegiatan-kegiatan yang aku anggap spesial. Bagiku palestina, yatim, orang tua (sepuh), pendidikan dan kesehatan adalah kegiatan spesial itu. Jika kalian bertanya "Kenapa" mungkin aku hanya akan menjawab "Ya karena itu" karena aku yakin apabila aku menjelaskan panjang lebar kalian tetap tidak akan mengerti. Cukuplah aku saja kenapa aku memilih fokus hidup untuk itu.

Pelaksanaan kelas inspirasi pada Senin, 14 Agustus 2017 yang lalu. Hari-hari menjelang pelaksanaan KI cukup membuatku gila memang. Pekerjaan kantor yang menggila karena project yang aku pegang sudah masuk delay, dateline tugas kuliah yang tidak punya ampun sedikitpun, Ujian Akhir Semester yang mau tak mau harus diperjuangkan dengan mati-matian, sidang Proposal yang tidak kalah ikut andil, dan Kelas Inspirasi yang menanti dengan beberapa tugasnya.

Seiring dengan waktu yang berlalu, satu per satu proses itu terlewati dengan syukur. Alhamdulillah hari pelaksanaan kelas inspirasi pun berjalan dengan sukses. Aku kala itu selain sebagai inspirator diamanahi pula sebagai MC Closing. Aku mencoba memberikan yang terbaik yang aku bisa.


Ngajar SD Rawaterate 02 Kelas 5

Ngajar SD Rawaterate 02 Kelas 2

Tim Kelas Inspirasi Jakarta 2017 - Kelompok 04

Senyum anak-anak, harapan anak-anak, harapan ibu/bapak guru, dan harapan kami para inspirator. Menjadi penutup acara tersebut. Semoga Allah meridhai setiap langkah kecil yang kami semua ikhtiarkan. Semoga Allah mengampuni segala dosa, dan menerima taubat kami.

Jakarta, 25 Agustus 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source : Personal Album

Pantai Sedahan, Jogjakarta

Apa yang sudah ditakdirkan untukmu, pasti akan datang kepadamu. Dan apa yang tidak ditakdirkan untukmu sekali-kali kamu tak akan pernah memilikinya.

***

Jenuh mulai melanda jiwa yang gersang saat itu. Nyaris 2 minggu aku di kampung halaman tanpa dolan-dolan (aka jalan-jalan). Tak akan pernah disangka dan dinyana bahwa seseorang yang telah menghilang 5 tahun kembali mengajak mantai.

Dan begitulah aku pecinta pantai, pecinta alam akhirnya memutuskan untuk ikut mantai dengan pertanyaan hati yang lengkap dari A-Z. Karena aku berjodoh dengan pantai ini, akhirnya akupun jumpa dengannya.

Kata pepatah, "Butuh perjuangan maksimal agar kita mendapatkan yang terbaik pula". Persis seperti itu aku dan mereka akhirnya bisa menikmati keindahan pantai yang super duper elok. Tak hanya itu, sedari dulu aku ingin sekali melihat bintang jatuh. Malam itu, tepat di bawah ribuan gugusan bintang serta diselimuti dinginnya angin yang berhembus aku melihat bintang jatuh. Ah membuat speechless memang.

Diiringi desir pantai yang beradu serta angin pantai berbisik, pikiran ini kembali memutar memori-nya, "Kenapa kisah ini menjadi seperti ini?". Kenapa Allah mempertemukanku kembali dengannya, adakah yang masih tertinggal dari kami? Adakah kisah kami memang belum selesai? Aku masih penasaran hingga saat ini. Penasaran kenapa Tuhan menjumpakan aku dengannya 9 tahun yang kemudian memisahkan kami selama 5 tahun. Rasanya seperti perantau yang pada akhirnya kembali ke rumah asal. Sekiranya memang ada sesuatu yang Tuhan mau dari kami, semoga itu adalah hal terbaik menurut-Nya. Hal yang membuat kami menjadi semakin bisa menghamba, semakin taat pada-Nya, dan semakin bermanfaat untuk siapa saja. Bukan malah menjauh, sehingga kami bergelimpangan dosa.

Ramadhan, 1438H - Juni, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
In Memories: Nurindriyan Bintang Pamungkas
Image source: Personal Album

Closing Arisan Jakarta Poenya Periode 1

Pada akhirnya kita menyerah pada waktu. Tahun lalu arisan jakarta ini dibentuk dengan tujuan untuk merutinkan acara kongkow bareng para anak-anak main alumni Politeknik Telkom Bandung yang sekarang singgah di Jakarta. Personil arisan ini terdiri 17 orang yang notabene hanya 1 peserta yang berstatus "Bapak", seorang yang berstatus "Istri" dan sisanya adalah "Single Bahagia".

Semoga jalinan persahabatan ini kekal hingga ke Surga-Nya kelak. Kami masing-masing masih punya cacat sana-sini, tapi dengan kekurangan itulah kami belajar Saling Memahami. Tidak Menuntut. Saling Mengerti. Dan Apa adanya.

Closing Arisan Jakarta Poenya Periode 1 Gaya Hesemeleh



Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
 Image Source: Personal Album

211 : Aksi Bela Islam 3
"Sesungguhnya Allah SWT itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia," lalu para sahabat bertanya, "Siapakah mereka itu Ya Rasulullah?" Beliau menjawab: "yaitu Ahlul Quran. Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang istimewa bagi Allah."

(HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ad Darimi dan Al Hakim)

***

Pagi itu ramai terdengar berbondong-bondong orang menuju Monas (Jakarta). Hatiku pun tak luput dari rasa bergetar yang entah tak tahu dari mana arah datangnya.

Beranjak siang, aku dan beberapa teman sekantor (Fujitsu Indonesia) mulai meninggalkan tempat duduk masing-masing. Pasti ada sesuatu yang Allah rancang ketika kita dipertemukan. 

Hujan beranjak turun ketika kami mulai melangkah, tak ada rasa ragu untuk kami melanjutkan langkah. Setelah melewati halte bus, hujan semakin deras. Kulihat di depan mataku barisan muslim hendak melaksanakan sholat Jumat. Adzan berkumandang, rintik-rintik hujan pun menambah syahdu Aksi Bela Islam ini. Kalau aku ditanya, "Anita kenapa kamu ikut demo? Ikut Aksi?". Akan kujawab dengan tegas, "Kalau tidak sekarang, kapan lagi aku akan ikut andil membela agama ini? Untuk Kitab ini?". 


Anita Sari Dalam Aksi Bela Islam 3


Jakarta, 2 Desember 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
 Image Source: Personal Album

Image result for graduation
Muhammad Naswir Second Graduation
"Ilmu menjaga ahlinya untuk selalu taqwa dan berhias malu. Jika kagum pada diamnya, dia bicara. Jika kagum pada bicaranya, dia diam. (Adz Dzahabi)"
***

Kulaju si vio (sebutan motor matic merah Vario kesayangan yang sudah 4 tahun lebih menemaniku) secepatnya menuju JCC Senayan setelah aku menyelesaikan kebersamaanku dengan adik-adik binaan di SMK Said Naum. Aku pun tak begitu peduli begitu teriknya mentari pagi ini karena hari ini adalah hari yang begitu istimewa untukku. Karena hari ini abang secara resmi mendapatkan gelar sarjananya.

Kudapati ribuan senyum mengembang di penjuru ruangan wisuda, bahkan satu-dua orang tak segan meneteskan air mata. Termasuk seorang ibu keturunan tionghoa yang kini menceritakan betapa bahagia dan bangganya beliau. Adalah anak keduanya yang sedang diwisuda.

Pikiranku pun melayang mengingat betapa besarnya pengorbanan abangku yang satu ini. Yah aku sendirilah yang menyaksikan perjuangannya. Aku ingat betul beberapa tahun ke belakang, ia pergi ke Bali mengikuti program dan aku menggantikan kuliahnya. Mengingat hal itu, aku malu sejujurnya. Karena nilai tugas yang sempat aku kerjakan tak mendapatkan hasil maksimal. Maafkan aku bang. Beberapa hal lain yang aku tahu abang harus berjuang dari Bandung-Jakarta sekedar untuk menempuh ujian. Beberapa kali abang drop karena selain kuliah ia juga menyantri di Bandung.

Kini kulihat dia begitu gagah dan tampan mengenakan baju wisuda, lengkap berdampingan dengan ayah, mama serta beberapa adiknya (salah satu adiknya tidak hadir karena sedang belajar di Pesantren Gontor). Tanpa sadar senyumku pun mengembang, ingin rasanya air mata ini pun luruh, namun kutahan. Bunga dan hadiah kecil kuserahkan kepadanya secara langsung. Doa-doa pun mengudara, syukur tak terkira aku panjatkan kepada Allah yang begitu baiknya menjaga kami. Terima kasih ya Allah untuk hari ini. Terima kasih Ya Allah untuk waktu yang masih diberikan. Aku paham betul selanjutnya akan ada ujian yang lebih kuat lagi. Maka Ya Allah Ya Rabb mampukan kami semua untuk melalui ujian-Mu ini.

Aku pun berharap, 2018 Aku pun akan menyemat gelar itu. Meskipun aku tak seberuntung abang dengan lengkapnya orang tua, aku akan tetap bahagia. Karena aku yakin "Bahagia tak melulu soal kebersamaan, tapi bahagia adalah doa-doa yang mengangkasa yang membuat Allah meridhai semua yang kami usahakan". 

Jakarta, 26 November 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
In Memories: Muhammad Naswir, S.Kom
Image Source: Personal Album

Daftar Perpustakaan Di Jakarta

Bagi pecinta buku perpustakaan sudah pasti menjadi surga tersendiri untuk mereka. Termasuk saya. Berikut adalah beberapa daftar perpustakaan di Jakarta.

01. Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta
Jalan Cikini Raya No. 73, Komplek TIM, Jakarta Pusat 10330 | bpadjakarta.net

02. Perpustakaan Japan Foundation
Jalan Jenderal Sudirman Kaveling 61-62 Gedung Summitmas I lantai 2 | jpf.or.id

03. Perpustakaan Ditjen Penataan Ruang Kementrian PU
Jalan Pattimura 20, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan | pustaka.penataanruang.net

04. Perpustakaan Goethe-Institut
Jalan Sam Ratulangi 9-15 Jakarta | goethe.de | info@jakarta.goethe.org

05. Perpustakaan Public Information Center World Bank of Jakarta
Jakarta Exchange Tower Level 13, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53 | worldbank.org | wsonda@worldbank.or.id

06. Perpustakaan Freedom Institute
Jalan Proklamasi No. 41, Menteng, Jakarta Pusat | freedom-institute.org

07. Perpustakaan Regional Office Science Bureau For Asia and the Pacific UNESCO Jakarta
Jalan Galuh II/5, Kabayoran Baru, Jakarta Selatan | unesco.org | jakarta@unesco.org

08. Perpustakaan Umum Jakarta Selatan
Jalan Gandaria Tengah V, Jakarta Selatan

09. Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat | perpus.uinjkt.ac.id

10. Perpustakaan Umum Jakarta Pusat
Tanah Abang I Kebon Jahe Jakarta Pusat | perpustakaanumum-jakpus.go.id | info@perpustakaanumum-jakpus.go.id

11. Perpustakaan Universitas Islam Jakarta
Jl. Balai Rakyat Utan Kayu Jakarta Timur | uid.ac.id | informasi@uid.ac.id

12. Perpustakaan BKKBN DKI Jakarta
Jl. Permata No. 1, Halim Perdanakusumah Jakarta | pustaka.bkkbn.go.id | bpad@bpadjakarta.net

13. Perpustakaan Pusat Universitas Negeri Jakarta
Jl. Rawamangun Muka Jakarta 13220, DKI Jakarta | lib.unj.ac.id | administrator@unj.ac.id

14. Perpustakaan Daniel S. Lev
Jalan Puri Imperium Office Plaza, UG-16 – Jl. Kuningan Madya Kav. 5-6. | danlevlibrary.net

15. Perpustakaan Diknas
Jalan Jenderal Sudirman,  Gedung A lantai 1 dan Mezanin, Senayan | perpustakaan.kemdiknas.go.id

16. Perpustakaan Universitas Indonesia
Gedung Crystal of Knowledge, Kampus UI, Depok | lib.ui.ac.id

17. Perpustakaan Rujak Center for Urban Studies (RCUS)
Gedung Ranuza lantai 2, Jalan Timor No. 10, Menteng, Jakarta Pusat | rujak.org

18. Perpustakaan Fakultas Ushuludin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Gedung Fakultas 2 lantai II Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat, Jakarta Selatan | fuf-library.uinjkt.ac.id

19. Perpustakaan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi PERBANAS Jakarta
Jalan Perbanas, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan | stieperbanas.ac.id | pustaka@stieperbanas.ac.id

20. Perpustakaan Nasional
Jalan Salemba Raya 28A, Jakarta Pusat | pnri.go.id

Full Moon at Jakarta
***

Tak pernah menyangka kalau malam ini kau terlihat begitu sempurna tanpa keraguan padahal seharian hujan deras mengguyur kota Jakarta. Aku berjalan pelan melalui genangan-genangan air sisa-sisa hujan tadi. Tanpa sadar aku pun hanyut dalam kenangan-kenangan itu.

Quran, Buku, Pantai dan Kota Bandung, dua hal yang akan selalu mengingatkanku padamu. Aku berjanji pada diriku, aku akan melupakan rasa yang tak pantas itu. Orang-orang menyebutnya "Cinta". Aku sendiri tak paham tentang apa itu, sesuatu yang lain dan tentu sesuatu yang berbeda.

Lambat laun aku semakin mengerti, tentang apa itu. Mungkin Allah mempertemukanku denganmu untuk membuatku belajar dan lebih mengerti tentang kehidupan. Saat ini, ketika Allah memperkenankan kamu menyapa aku jauh lebih tegar. Kamu ujian untukku, dan aku pun ujian maut untukmu.



Jakarta, 14 November 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
 Image Source: Personal Album

411 : Aksi Bela Quran
***

Cinta. Mungkin hal itulah yang menjadi alasan kenapa kami berpanas-panas ria di Ibukota ini. Mungkin beberapa orang akan menganggap hina. Mungkin sebagian lain mencaci sejadi-jadinya di keheningan kota ini. 

Kini aku semakin mengerti cinta yang pantas untuk lebih diperjuangkan, cinta yang bukan semu, cinta yang mengharu biru dengan penuh keteduhan, cinta yang menenangkan, cinta yang kau berjuang dengan segenap raga. Adalah Cinta karena Rabb semata.

Beberapa hari menjelang hari itu, alhamdulillah cuti yang aku layangkan kepada atasanku diterima. Aku termasuk orang paling beruntung. Karena beberapa dari kawanku hanya mampu mengirimkan doa untuk ikut andil dalam aksi tersebut.

Kemudian di hari pelaksanaan. Aku hanya mampu berdoa, sekiranya ini adalah hari terakhirku maka semoga engkau meridhai semua perjuangan ini.



Jakarta, 4 November 2016 | ©www.anitasarisukardi.com


Image Source: Personal Album

Mahasiswa Angkatan 2016 Politeknik Elektro Negeri Surabaya

***

Istimewa rasanya menjadi mahasiswa baru. Bangga sekaligus was-was memang menapaki jalur ini. Ragam pertanyaan muncul bertubi-tubi melengkapi segala kekhawatiran. Sanggupkah membayar kuliahnya kedepan, Sanggupkah menyelesaikan tugas-tugas kuliah, sanggupkah menjalani kuliah di sela-sela bekerja, Masih banyak hal yang lain tentunya.

Sesuatu yang ribuan tahun sudah ditetapkan untukmu, tak akan pernah lari darimu

Setidaknya hal itulah yang aku tahu tentang kehidupan ini. Beberapa kali sebelum resmi menjadi mahasiswa, dari segi biaya dan proses seleksinya aku mengalami banyak kesulitan. Tapi itulah kehidupan. Kita hanyalah pelakon dalam scenario yang telah Allah buat untuk kita.

Jadwal kuliah yang padat. Rasanya seperti bunuh diri memang. Senin - Kamis, Sabtu dan Minggu. Nyaris akan membawa banyak perubahan ke dalam aktivitasku. Entah mengaji, mengajar, dan jalan-jalan pasti akan banyak tersita. Hal itu banyak memberi pelajaran bagiku ternyata, tentang "Prioritas Hidup". Tentang apa yang kita usahakan sekarang, dan untuk apa kita mengusahakannya.



Jakarta, 29 Oktober 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
 Image Source: Politeknik Elektronika Negeri Surabaya