"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)

Communication
#SerialBaca
Sering kali kita mendapati beberapa orang tidak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh penyampai pesan. Termasuk kita dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini memberikan efek yang besar jika sang penerima pesan tidak mampu mengolah informasi dengan benar.

Apa kunci agar orang lain paham dengan yang kita sampaikan?
Yaitu sang penyampai pesan harus memahami karakter penerima pesan. Penyampai pesan harus menyampaikan pesan sesuai dengan karakter penerima pesan, misalnya ketika akan menyampaikan pesan X kepada penerima A yang model menangkap pesan adalah 1. Penyampai pesan akan menyampaikan pesan X kepada penerima B yang model menangkap pesan adalah 2, maka penyampai pesan harus menyampaikan pesan se X dengan model 1 kepada penerima A, dan model 2 kepada penerima B. Sehingga sang penyampai pesan tepat menyampaikan pesan.


Bandung, 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Unknown

211 : Aksi Bela Islam 3
"Sesungguhnya Allah SWT itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia," lalu para sahabat bertanya, "Siapakah mereka itu Ya Rasulullah?" Beliau menjawab: "yaitu Ahlul Quran. Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang istimewa bagi Allah."

(HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ad Darimi dan Al Hakim)

***

Pagi itu ramai terdengar berbondong-bondong orang menuju Monas (Jakarta). Hatiku pun tak luput dari rasa bergetar yang entah tak tahu dari mana arah datangnya.

Beranjak siang, aku dan beberapa teman sekantor (Fujitsu Indonesia) mulai meninggalkan tempat duduk masing-masing. Pasti ada sesuatu yang Allah rancang ketika kita dipertemukan. 

Hujan beranjak turun ketika kami mulai melangkah, tak ada rasa ragu untuk kami melanjutkan langkah. Setelah melewati halte bus, hujan semakin deras. Kulihat di depan mataku barisan muslim hendak melaksanakan sholat Jumat. Adzan berkumandang, rintik-rintik hujan pun menambah syahdu Aksi Bela Islam ini. Kalau aku ditanya, "Anita kenapa kamu ikut demo? Ikut Aksi?". Akan kujawab dengan tegas, "Kalau tidak sekarang, kapan lagi aku akan ikut andil membela agama ini? Untuk Kitab ini?". 


Anita Sari Dalam Aksi Bela Islam 3


Jakarta, 2 Desember 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
 Image Source: Personal Album



Aku melepaskanmu sekarang,
Tak ingin lagi aku menduakan hati ini,
Aku pun tak ingin berkhianat pada jodohku yang aku pun masih bertanya "Siapakah dia?"
Bukan karena aku kecewa,
Bukan karena aku menyerah,
Bukan.

Kuyakinkan hati ini tak terluka,
Untuk sekarang ataupun nanti,
Kuyakinkan aku tak akan bergantung lagi padamu,
Untuk sekarang ataupun nanti,

Kamu, jangan lagi berbuat baik lagi padaku,
Karena itu akan membuatku semakin sulit,

Tuhan terima kasih telah mempertemukanku dengannya,
Tuhan terima kasih telah menjadikannya ujian untuk hatiku,




Jakarta, 29 November 2016
www.anitasarisukardi.com


Image result for graduation
Muhammad Naswir Second Graduation
"Ilmu menjaga ahlinya untuk selalu taqwa dan berhias malu. Jika kagum pada diamnya, dia bicara. Jika kagum pada bicaranya, dia diam. (Adz Dzahabi)"
***

Kulaju si vio (sebutan motor matic merah Vario kesayangan yang sudah 4 tahun lebih menemaniku) secepatnya menuju JCC Senayan setelah aku menyelesaikan kebersamaanku dengan adik-adik binaan di SMK Said Naum. Aku pun tak begitu peduli begitu teriknya mentari pagi ini karena hari ini adalah hari yang begitu istimewa untukku. Karena hari ini abang secara resmi mendapatkan gelar sarjananya.

Kudapati ribuan senyum mengembang di penjuru ruangan wisuda, bahkan satu-dua orang tak segan meneteskan air mata. Termasuk seorang ibu keturunan tionghoa yang kini menceritakan betapa bahagia dan bangganya beliau. Adalah anak keduanya yang sedang diwisuda.

Pikiranku pun melayang mengingat betapa besarnya pengorbanan abangku yang satu ini. Yah aku sendirilah yang menyaksikan perjuangannya. Aku ingat betul beberapa tahun ke belakang, ia pergi ke Bali mengikuti program dan aku menggantikan kuliahnya. Mengingat hal itu, aku malu sejujurnya. Karena nilai tugas yang sempat aku kerjakan tak mendapatkan hasil maksimal. Maafkan aku bang. Beberapa hal lain yang aku tahu abang harus berjuang dari Bandung-Jakarta sekedar untuk menempuh ujian. Beberapa kali abang drop karena selain kuliah ia juga menyantri di Bandung.

Kini kulihat dia begitu gagah dan tampan mengenakan baju wisuda, lengkap berdampingan dengan ayah, mama serta beberapa adiknya (salah satu adiknya tidak hadir karena sedang belajar di Pesantren Gontor). Tanpa sadar senyumku pun mengembang, ingin rasanya air mata ini pun luruh, namun kutahan. Bunga dan hadiah kecil kuserahkan kepadanya secara langsung. Doa-doa pun mengudara, syukur tak terkira aku panjatkan kepada Allah yang begitu baiknya menjaga kami. Terima kasih ya Allah untuk hari ini. Terima kasih Ya Allah untuk waktu yang masih diberikan. Aku paham betul selanjutnya akan ada ujian yang lebih kuat lagi. Maka Ya Allah Ya Rabb mampukan kami semua untuk melalui ujian-Mu ini.

Aku pun berharap, 2018 Aku pun akan menyemat gelar itu. Meskipun aku tak seberuntung abang dengan lengkapnya orang tua, aku akan tetap bahagia. Karena aku yakin "Bahagia tak melulu soal kebersamaan, tapi bahagia adalah doa-doa yang mengangkasa yang membuat Allah meridhai semua yang kami usahakan". 

Jakarta, 26 November 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
In Memories: Muhammad Naswir, S.Kom
Image Source: Personal Album

Muhammad


Pagi itu Rasulullah dengan suara terbata-bata berkhutbah. "Wahai umatku. Kita semua dalam kekuasaan Allah dan Cinta kasih-Nya. Maka taat dan bertakwalah kepadaNya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Quran dan Sunnahku. Siapa yang mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintai aku akan masuk surga bersama-sama aku.’”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang. Ali menundukkan kepala. Isyarat telah datang. Saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati sahabat. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya. Tanda-tanda itu semakin kuat. Ali dengan cekatan memeluk Rasulullah yang lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Di dalamnya, Rasul terbaring lemah dengan kening berkeringat membasahi pelepah kurma alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar ucapan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Fatimah tidak mengizinkannya masuk. “Maafkan, ayahku sedang demam,” katanya. Ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya: “Siapakah itu wahai anakku?”, “Tak tahulah ayahku, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Rasulullah menatap putrinya dengan pandangan menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah putrinya hendak dikenangnya. “Ketahuilah. Dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut!” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Ketika Malaikat maut datang mendekat, Rasul menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. 

Kemudian dipanggilah Jibril yang sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?!” tanya Rasulullah dengan suara amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka. Para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Ternyata itu tidak membuat Rasul lega. Matanya masih penuh gambaran kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir Ya Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat. Saatnya Izrail melakukan tugasnya. 

Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” Rasulullah mengaduh lirih. Fatimah terpejam. Ali yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Kemudian terdengar Rasul memekik karena sakit yang tidak tertahankan. “Ya Allah!! Dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

“Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya: Uushikum bis Shalati, wa maa malakat aymanukum. Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antara kamu.”
“Di luar pintu, tangis pun mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii….. Ummatii……. Ummatii….”

“Berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.”
“Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Betapa sayangnya beliau kepada pengikutnya yang belum pernah dilihatnya sekalipun,” tutur Ibu.


Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com


Original Writer: Ketua Stikosa-AWS (Staf Ahli Majalah Al Falah)
Image Source: Unknown



Dari Adu Dzar Al Ghifari ra., ia berkata: "Kekasihku (Rasulullah) saw berwasiat kepadaku tentang 7 hal antara lain sebagai berikut:
  1. Supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka.
  2. Beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat orang yang berada di atasku.
  3. Beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berkata kasar kepadaku.
  4. Aku dianjurkan untuk memperbanyak ucapanlaa haulaa walaa quwwata illaa billaah (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah).
  5. Aku diperintahkan mengatakan kebenaran meskipun itu pahit.
  6. Beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah.
  7. Dan beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia.
Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Unknown

Rumah Quran
Darul 'Ilmi 

بسم الله الرحمن الرحيم
Bandung October 12, 2014

Rumah Quran lahir sebagai wujud dan mimpi kami untuk menjaga Al Quran hingga hari akhir itu tiba. Mimpi kami sederhana, Rumah Quran ini adalah tempat belajar, tempat diskusi/sharing wawasan Al Quran yang Allah meridhoi-Nya. Harapan kami kecil, yaitu mewujudkan hati yang saling terpaut karena Al Quran.

Rumah Quran

Seperti kita bernafas, kami ingin Rumah Quran mengalir seperti itu. Dan cukuplah Allah sebagai penolong kami.



Bandung, Oktober 2014 | ©www.anitasarisukardi.com
 Image Source: Personal Album



#SerialBaca
Berikut adalah beberapa tips untuk melatih anak agar bisa mandiri:
  1. Berikan pujian terhadap kegiatan positif yang telah dilakukan anak, meskipun hasilnya kurang memuaskan. Hal ini akan memberikan motivasi kepada anak untuk berbuat yang sama di lain waktu.
  2. Orang tua atau pengasuh, jangan secara langsung memberikan bantun jika anak mengalami kesulitan. Berikan dorongan agar anak tidak mudah menyerah.
  3. Jika anak menginginkan sesuatu seperti kartun di televisi, buku bacaan, atau majalah anak, berilah kesempatan kepada anak untuk memilih. Jika memang apa yang dipilih kurang baik untuk mereka, berikan alasan yang dapat diterima mengapa harus memilih yang lain.
  4. Dorong dan terus berilah motivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif untuk anak. Setelah orang tua mengetahui bahwa itu adalah bakat si anak, pupuk dan latih terus bakat anak.
  5. Sekali-kali ajak dan pancing si anak berdiskusi dan memberikan pendapat terhadap suatu permasalahan.
  6. Ajak anak untuk peka terhadap lingkungan dan membantu sesamanya, baik itu teman di sekolah maupun di rumah.
  7. Ajak anak untuk berkhayal tentang masa depan, misalnya apa yang menjadi cita-citanya kelak.
  8. Ajarkan anak bergantung kepada Tuhan. Ajarkan ketauhidan serta ibadah sejak dini. Sehigga nantinya jika anak mendapatkan suatu masalah yang berat, anak tidak akan terjerumus paa hal-hal negatif seperti narkoba, minupan keras, balapan liar dan yang lainnya.
Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Unknown

Daftar Perpustakaan Di Jakarta

Bagi pecinta buku perpustakaan sudah pasti menjadi surga tersendiri untuk mereka. Termasuk saya. Berikut adalah beberapa daftar perpustakaan di Jakarta.

01. Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta
Jalan Cikini Raya No. 73, Komplek TIM, Jakarta Pusat 10330 | bpadjakarta.net

02. Perpustakaan Japan Foundation
Jalan Jenderal Sudirman Kaveling 61-62 Gedung Summitmas I lantai 2 | jpf.or.id

03. Perpustakaan Ditjen Penataan Ruang Kementrian PU
Jalan Pattimura 20, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan | pustaka.penataanruang.net

04. Perpustakaan Goethe-Institut
Jalan Sam Ratulangi 9-15 Jakarta | goethe.de | info@jakarta.goethe.org

05. Perpustakaan Public Information Center World Bank of Jakarta
Jakarta Exchange Tower Level 13, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53 | worldbank.org | wsonda@worldbank.or.id

06. Perpustakaan Freedom Institute
Jalan Proklamasi No. 41, Menteng, Jakarta Pusat | freedom-institute.org

07. Perpustakaan Regional Office Science Bureau For Asia and the Pacific UNESCO Jakarta
Jalan Galuh II/5, Kabayoran Baru, Jakarta Selatan | unesco.org | jakarta@unesco.org

08. Perpustakaan Umum Jakarta Selatan
Jalan Gandaria Tengah V, Jakarta Selatan

09. Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat | perpus.uinjkt.ac.id

10. Perpustakaan Umum Jakarta Pusat
Tanah Abang I Kebon Jahe Jakarta Pusat | perpustakaanumum-jakpus.go.id | info@perpustakaanumum-jakpus.go.id

11. Perpustakaan Universitas Islam Jakarta
Jl. Balai Rakyat Utan Kayu Jakarta Timur | uid.ac.id | informasi@uid.ac.id

12. Perpustakaan BKKBN DKI Jakarta
Jl. Permata No. 1, Halim Perdanakusumah Jakarta | pustaka.bkkbn.go.id | bpad@bpadjakarta.net

13. Perpustakaan Pusat Universitas Negeri Jakarta
Jl. Rawamangun Muka Jakarta 13220, DKI Jakarta | lib.unj.ac.id | administrator@unj.ac.id

14. Perpustakaan Daniel S. Lev
Jalan Puri Imperium Office Plaza, UG-16 – Jl. Kuningan Madya Kav. 5-6. | danlevlibrary.net

15. Perpustakaan Diknas
Jalan Jenderal Sudirman,  Gedung A lantai 1 dan Mezanin, Senayan | perpustakaan.kemdiknas.go.id

16. Perpustakaan Universitas Indonesia
Gedung Crystal of Knowledge, Kampus UI, Depok | lib.ui.ac.id

17. Perpustakaan Rujak Center for Urban Studies (RCUS)
Gedung Ranuza lantai 2, Jalan Timor No. 10, Menteng, Jakarta Pusat | rujak.org

18. Perpustakaan Fakultas Ushuludin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Gedung Fakultas 2 lantai II Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat, Jakarta Selatan | fuf-library.uinjkt.ac.id

19. Perpustakaan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi PERBANAS Jakarta
Jalan Perbanas, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan | stieperbanas.ac.id | pustaka@stieperbanas.ac.id

20. Perpustakaan Nasional
Jalan Salemba Raya 28A, Jakarta Pusat | pnri.go.id

Wanita Di Dunia Lebih Utama Dibandingkan Bidadari Surga
***
Kenapa wanita lebih utama dibandingkan dengan bidadari di surga? Benarkah itu? 
#SerialBaca
Akhirnya dalam sebuah buku, kutemukan mengenai jawaban permasalahan ini. Kata yang terangkai indah dan semoga kelak kutemukan jawabnya dari Rasulullah.


Aku bertanya, "Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita di dunia ataukah wanita bidadari bermata jeli?"
Beliau menjawab, "Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang tidak terlihat"

Aku bertanya, "Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?"
Beliau menjawab, "Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, "Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya." (HR Ath Thabrani, dari Ummu Salamah)

Subhanallah, subhannallah
Segala puji bagi Allah semesta alam



Bandung, 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Unknown


"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata), ‘Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam.’"

(Q.s. Al-Baqarah:132)
#SerialBaca

Usia (tahun)
Materi
Keterangan
Baru lahir – 2 bulan
Membiasakan anak dengan lafal “la ilaha illallah”
- Bisikkan lafal ini di telinga anak.
2 bulan – 6 bulan
Membiasakan anak dengan lafal syahadat “asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah”
- Pada usia 2 bulan, ketika anak digendong biasanya anak mulai lebih sering menatap ibunya.
- Tatap mata anak ketika mengucapkan lafal tsb.
- Lafal tsb agak panjang; bersabarlah membiasakan anak dengannya.
6 bulan – 1,5 tahun
Biasakan anak mendengar lafal dzikrullah (tasbih, tahmid, takbir, tahlil) dan kalimah thayyibah (istigfar, basmalah, isti’adzah, dll.)
-
1,5 tahun – 2 tahun
Mulai bertanya-jawab dengan anak tentang “siapa tuhanmu?”
- Disesuaikan dengan kemampuan bicara anak.
- Tahap 1: orang tua memberi pertanyaan sekaligus jawabannya (contoh: Ibu: “Usamah, siapa tuhanmu? Allah”)
- Tahap 2: orang tua memberi pertanyaan, anak diminta menjawabnya.
2 tahun – 2,5 tahun
- Mulai bertanya jawab dengan anak tentang “siapa tuhanmu?”, “apa agamamu?”, “siapa nabimu?”
- Jawaban atas tiga pertanyaan ini sekaligus sebagai jati diri bagi anak (Tuhannya, agamanya, dan nabinya).
- Disesuaikan dengan kemampuan bicara anak.
- Tahap 1: orang tua memberi pertanyaan sekaligus jawabannya (contoh: Ibu: “Usamah, siapa tuhanmu? Allah”)
- Tahap 2: orang tua memberi pertanyaan, anak diminta menjawabnya.
- Mengajarkan rububiah Allah (contoh: Allah yang ciptakan Usamah. Allah yang ciptakan Ummi. Allah yang ciptakan Abi. Allah yang ciptakan pohon. Allah yang ciptakan kucing. Dst ….)
- Biasanya pada usia ini anak mulai lebih sering bertanya tentang objek di sekelilingnya, “Apa ini, Bu?”
- Mengajarkan rukun islam.
- Mengajarkan rukun iman.
- Diberikan bila sekiranya anak memang sudah lancar berbicara.
- Setiap orang tua bisa mempertimbangkan apakah materi ini akan memberatkan anak bila diberikan bersamaan dengan materi “siapa tuhanmu, apa agamamu, siapa nabimu?”.
2,5 – 3 tahun
- Mengajarkan tauhid asma’ wa sifat Allah.
- Mengaitkan kegiatan sehari-hari dengan asma’ wa sifat Allah. Contoh:
* Anak makan berdiri.
“Allah Maha Melihat. Kita malu kalau Allah melihat kita makan berdiri.”
* Anak enggan shalat.
“Allah cinta sama orang yang rajin shalat.”
- Disesuaikan dengan daya-tangkap anak.
- Ketika pertama kali mengajarkan nama Allah atau sifat Allah ulangi hingga tiga kali.
- Beberapa asma’ wa sifat Allah yang bisa coba diajarkan dalam rentang usia ini:
* Allah di atas ‘arsy.
* Allah Maha Melihat
* Allah Maha Mendengar
* Allah Cinta
* Allah Marah
- Mengajarkan keberadaan surga dan neraka.
- Untuk mengajarkan konsep targhib dan tarhib.
Referensi
  1. Tsalatsatul Ushul, karya Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab.
  2. Qawa’idul Arba`, karya Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab.
  3. Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
  4. Fiqhul Asma`il Husna`, karya Syekh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.


Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Unknown



#SerialLiqo
Berikut adalah macam-macam persahabatan
  1. "Ta'aruffan" , persahabatan yg terjalin krn pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, bioskop dan lainnya.
  2. "Taariiihan", persahabatan yg terjalin krn faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama dan sebagainya.
  3. "Ahammiyyatan", persahabatan yg terjalin krn faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.
  4. "Faarihan", persahabatan yg terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, berburu, memancing, dan sebagainya.
  5. "Amalan",  persahabatan yg terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, dan sebagainya.
  6. "Aduwwan", seolah sahabat tetapi musuh, didepan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, "Bila engkau memperoleh nikmat, ia benci, bila engkau tertimpa musibah, ia senang" (QS 3:120).Rasulullah mengajarkan doa", Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yg bila melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan."
  7. "Hubban Iimaanan", adlh sebuah ikatan persahabat yg lahir batin, tulus saling cinta & sayang krn ALLAH, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam2 dipenghujung malam, ia doakan sahabatnya.Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya krn Allah Ta'ala.

"Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa"

QS. Az Zukhruf : 67
​
Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album