"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)


Hai hai hai. Apa kabar di Tahun baru teman-teman?
Apa resolusi kalian di tahun 2019 ini?
Boleh-lah cerita-cerita sikit.

Nah untuk menyemangati teman-teman sekalian, yuk cek jadwal-jadwal puasa di tahun 2019. Selain cek jadwal puasa, kita juga bisa nih tag jadwal untuk liburan. Oke langsung saja, berikut adalah kalender muslim 2019.



Jakarta, 8 Januari 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Al Habib Info

Perkembangan Jiwa Sosial Anak

Saat ini kita cenderung sulit menemukan pribadi anak-anak yang tanggap akan lingkungan sekitar. Anak-anak cenderung gadget-able atau individualis. Mereka hanya tertarik dengan apa yang terjadi dengan diri mereka sendiri. Lantas siapa yang salah?

***
Ternyata jiwa sosial pada anak terbentuk sejak ia dalam fase timangan atau menyusui. Jika kita tepat memberikan pendidikan sosial kepada anak sejak saat itu, maka jiwa sosial akan melekat di dalam hati anak seumur hidup. Lalu bagaimanakah proses perkembangan jiwa sosial pada anak? Bagaimana indikasinya? Let's check this out;
  1. Usia 3 - 5 bulan
  2. Anak akan mulai nyaman dengan keberadaan orang lain. Ia akan menangis ketika ditinggal sendirian.

  3. Usia 6 - 7 bulan
  4. Anak akan mulai dapat membedakan suara orang marah dan suara orang yang mengajaknya bermain.

  5. Usia 8 - 9 bulan
  6. Anak mulai meniru hal-hal sederhana dari orang lain.

  7. Usia 11 - 12 bulan
  8. Anak mulai berhenti melakukan sesuatu jika dilarang oleh orang dewasa.

  9. Usia 18 - 20 bulan
  10. Anak mulai memperlihatkan sikap membangkang.

  11. Usia 20 - 24 bulan
  12. Perhatian anak akan mulai beralih dari mainan ke teman-temannya.

Demikian proses perkembangan jiwa sosial anak umur 0 - 2 tahun. Semoga bermanfaat. Salam sehat, salam semangat dan jangan lupa senyum.


Jakarta, 4 April 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google Album

Pendidikan Anak Berbasis Fitrah
Allah merancang fitrah pada diri manusia, pada alam semesta dan pada kehidupan, lalu meletakkan di atasnya sistem hidup yang selaras dengan fitrah.
***

Setiap manusia yang Allah ciptakan di dunia ini pasti ada tujuannya. Tiap manusia memiliki perannya masing-masing. Maka dalam setiap keadaan yang menghadirkan manusia, maka Allah menetapkan Alasan kehadiran manusia tersebut.

Lalu bagaimana cara kita mengetahui peran kita atau anak kita dalam kehidupan?

Di pendidikan islam, mengenal adanya pendidikan berdasarkan fitrah. Fitrah di sini adalah kondisi konstitusi dan karakter yang dipersiapkan untuk menerima Agama. Fitrah dibagi menjadi dua fundamental. Pertama adalah fitrah munazalah (adab) yaitu adab yang diturunkan atau ditanamkan. Kedua adalah fitrah ghazirah yaitu fitrah yang dilahirkan dan diturunkan.

Konsentrasi Pendidikan Islam

Fitrah tidak berbicara skill dan knoledge, fitrah berbicara bagaimana cara menggairahkan konsep-konsep yang telah ditetapkan Allah pada manusia.

Fitrah itu antara lain sebagai berikut:
  1. Fitrah Keimanan atau Bertuhan
  2. Fitrah Pembelajar ( Belajar dan Nalar)
  3. Fitrah Bakat dan Kepemimpinan
  4. Fitrah Estetika dan Bahasa
  5. Fitrah Perkembangan
  6. Fitrah Individualis dan Sosialis
  7. Fitrah Jasmani ( Fisik dan Sehat)
  8. Fitrah Seksualitas dan Cinta
Fitrah Personal

Penerapan pendidikan berdasarkan fitrah antara lain sebagai berikut:
  1. 0 - 6 tahun (Penguatan Konsepsi)
  2. Pendidikan pada umur ini dicontohkan oleh pendidikan yang dialami rasullullah. Ketika umur 0 - 6 tahun pendidikan berkonsepsi alam. Pendidikan ini melalui imaji positif dan kecintaan di keluarga. Sehingga fokus pendidikan pada umur ini antara lain; tarbiyah langsung dengan alam, lingkungan yang hanif, kasih sayang orang tua, bangun cinta (akidah), kenali sifat unik anak, mengenalkan konsepsi gender anak.

  3. 7 - 10 tahun (Penyadaran Potensi)
  4. Fokus pendidikan pada umur ini adalah menumbuhkan dan menyadarkan fitrah sebagai potensi melalui interaksi dan aktifitas di lingkungan. Pendidikan di umur ini; mengajarkan ketertiban dan ketaatan, penguatan konsepsi gender yang dia sudah tahu perannya di masa mendatang akan menjadi seorang ibu/ayah. Anak-anak bisa diberikan dua pembimbing yaitu murabbi untuk imannya dan maestro untuk bakatnya. Tujuannya untuk mendapatkan keteladanan yang baru.

  5. 11 - 14 tahun (Pengujian Existensi)
  6. Fokus pendidikan pada umur ini adalah menguatkan dan menguji fitrah sebagai eksistensi peran. Contoh penerapan pendidikan ini adalah jadikan anak sebagai partner bisnis kita, anak pada umur 14 tahun sudah harus mandiri dan tanggung jawab. Selain itu contoh pendidikan pada umur ini adalah ajarkan anak untuk jadi perantau, bisa dilakukan dengan menyekolahkan anak di tempat yang jauh. 

Bandung, 17 Desember 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google Source

Tanda Bahaya Kehamilan

Halo bunda semuanya. Apa kabar nih? Semoga sehat semua ya. Oh iya nih, memasuki kehamilan 32 minggu kemarin saya sudah mulai ikutan kelas senam hamil. Beberapa ibu-ibu hamil mungkin beranggapan bahwa senam hamil tidak penting, namun berbeda dengan saya. Menurut saya senam hamil/prenatal yoga penting. Untuk apa? Untuk menyiapkan diri sebelum proses kelahiran. Ibaratnya nih ya, jika kita hendak ujian pasti kita akan belajar mati-matian untuk ujian itu agar lulus ujian bukan? Nah begitu pula dengan kelahiran sang buah hati. Intinya sih kita harus menyiapkan segala sesuatu baik fisik maupun mental.

Nah saya ikut senam hamil di RS. Borromeus Bandung. Di pertemuan ke dua ini banyak sekali yang saya pelajari. Selain latihan nafas, posisi melahirkan, cara mengejan kami juga mendapatkan materi tanda-tanda bahaya kehamilan. Ternyata sebagai calon ibu dan calon kita harus banget waspada. Sayangnya suami awak tidak ikut. Jadi ya beliau ga full menerima ilmunya, paling share-an dari saya saja.

Di antara tanda-tanda bahaya kehamilan itu antara lain sebagai berikut;
  1. Sakit kepala yang hebat
  2. Sakit kepala ini terjadinya lama, dan tidak sembuh ketika kita sudah mencoba beristirahat. Hal ini memungkinkan akan terjadinya preklamsi.

  3. Penglihatan kabur
  4. Seperti pingsan, pandangan mata menjadi kabur. Hal ini memungkinkan akan terjadinya preklamsi.

  5. Bengkak di wajah dan jari-jari tangan
  6. Wajah dan jari tangan mengalami pembengkaan. Hal ini memungkinkan akan terjadinya preklamsi.

  7. Gerakan janin tidak terasa
  8. Normalnya bayi yang ada di perut akan bergerak minimal 10 gerakan dalam 12 jam. Jika lebih banyak gerakan maka lebih bagus.

  9. Nyeri perut yang hebat
  10. Nyeri perut yang hebat berbeda dengan kondisi kontraksi palsu, nyeri perut yang hebat ini terjadi lama (tidak kunjung membaik). Berbeda dengan kontraksi palsu, jika ibu mengalami kontraksi palsu sakit perut yang dirasakan tidak terlalu lama dan perut tidak menegang lama.

  11. Pendarahan pervagina
  12. Keluarnya darah setelah usia 28 minggu. Hal ini biasa disebut antepartum.

  13. Keluar cairan pervagina
  14. Keluarnya cairan atau ketuban pecah/rembes patut di waspadai. Bedanya cairan ketuban yang keluar dengan keputihan adalah jika keputihan cairan agak kental dan sedikit berbau. Namun jika cairan ketuban cairan seperti air berwarna bisa bening, putih, kuning, kehijauan dan berbau anyir. Untuk memastikan lebih lanjut bisa dicek menggunakan kertas lakmus.
Demikian sharing pengalaman kali ini, jika calon ibu mengalami beberapa kondisi di atas sebaiknya lekas berkonsultasi ke tenaga medis (dokter, puskesmas, rumah sakit) jangan sampai menunda. semoga bermanfaat.

Bandung, 16 Desember 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google Source

Sia-sia

Agak tricky memang membicarakan hal-hal yang sia-sia dalam hidup. Satu atau beberapa orang mengerti namun kebanyakan darinya tidak tahu harus bagaimana. Banyak hal yang terpikirkan, namun hanya berputar-putar saja ditempat.

***

Belakangan ini aku membuka-buka lembaran catatan harian yang dari dulu aku tulis. Miris rasanya, karena ternyata banyak hal yang begitu saja terlewat. Ah. Mungkin ini saatnya bangkit dari keterpurukan diri sendiri, atau aku akan menyesal selamanya.

Dari catatan yang aku tulis, ada satu bagian yang menjelaskan poin-poin hal-hal yang sering disia-siakan oleh manusia. Sayangnya aku tidak menulis sumbernya. Maafkan. 

Hal-hal yang sering disia-siakan itu antara lain sebagai berikut:
  1. Bertemu dengan orang berilmu tetapi tidak ditanyai.
  2. Ilmu tidak diamalkan.
  3. Pendapat benar, namun tidak diterima.
  4. Senjata yang tidak digunakan.
  5. Masjid yang tidak ditegakkan sholat di dalamnya.
  6. Quran yang tidak dibaca.
  7. Harta yang tidak diinfakkan.
  8. Kendaraan yang tidak dipakai.
  9. Ilmu kezuhudan bagi pecinta dunia.
  10. Usia panjang tidak menambah bekal di akhirat.
Belajarlah sehebat mungkin, seperti Allah tidak akan membantu jika anda tidak pandai, tapi berdoalah sekhusyuk mungkin seperti semua kepandaian anda tidak ada gunanya.

Bandung, 14 Desember 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google Source

Free ebook untuk anak-anak
***

Dear mom and all of the reader. Jadi ceritanya saya ingin membeli buku-buku untuk anak saya, sayangnya harga buku-buku untuk anak-anak mahal-mahal. Malah harga buku untuk anak-anak dibilang lebih mahal dibanding buku lain yang untuk seumuran remaja ke atas.

Beranjak dari situlah saya ingin berbagi ebook yang saya miliki dengan warga net sekalian. Insyaallah ebook yang saya punyai ini halal untuk disebar luaskan.

DOWNLOAD EBOOK ANAK



Bandung, 4 Desember 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google


Muslim Planner 2019

"Cara terbaik yang bisa kita lakukan untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya", kutipan dari Stephen Covey.
***
 Alhamdulillah 2019 akan segera datang. Setelah tahun ini mungkin kita belum maksimal dan banyak hal yang terlewat so mari kita siapkan 2019 sebaik mungkin dari sekarang. Mari menyusun target-target di 2019 dan secara kontinyu serta disiplin menjalankan program-program yang sudah dibuat.

Muslim planner yang saya share ini adalah modifikasi muslim planner 2018 yang saya edit tanpa menghilangkan identitas owner asli. Tujuannya adalah untuk berbagi kepada siapa pun sehingga bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menjadi pribadi yang lebih baik.






Bandung, 4 Desember 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google

Beberapa waktu lalu saya mengikuti acara "Family Gathering" kantor. Setelah beberapa kali tidak bisa mengikuti beberapa acara kantor, akhirnya pada kesempatan ini bisa bergabung juga. Gathering diadakan di Sari Ater Bandung, tidak jauh memang tapi cukup menjadi hiburan bagi kami para pegawai.

Seperti biasanya acara terdiri dari team building, sharing malam, hiburan, dan permainan. Kali ini saya tidak begitu in mengikuti acara terutama yang berkaitan dengan banyak gerak. Maklum sedang berbadan dua. Bedanya tahun ini suami saya yang aktif mengikuti beberapa acara.

Malam hari sesi sharing malam, direktur memberikan sepatah dua kata yang menurut saya cukup bagus. Beliau menjelaskan beberapa hal tentang waktu. Yah ternyata memang begitu singkat, ketika kita hidup dengan kontrak beberapa tahun maka kontrak itu akan selesai pada waktunya. Lalu yang tersisa hanyalah penyesalan, karena kurang maksimalnya detik-detik berlalu.

Sebagian besar dari kita pasti menghabiskan waktu untuk bekerja, lantas bagaimana agar "bekerja" tidak berlalu begitu saja? Bagaimana agar bekerja bernilai ibadah? sehingga kita tidak merugi di kemudian hari.

Agar bekerja bernilai ibadah
  1. Niat karena Allah dan pelaksanaannya harus berlandaskan keimanan dan sesuai tuntunan.
  2. Berkerja dengan sungguh-sungguh dan profesional.
  3. Bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab.
  4. Menjunjung tinggi etika dan moral.
  5. Tidak melalaikan diri dari ibadah wajib kepada Allah.
  6. Di sisa waktu (ketika selesai bekerja dan masuk waktu tidur) maka laksanakan adab-adab ketika hendak tidur.
“Dan Katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan di kembalikan kepada ( Allah ) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(Q.S. At-Taubah: 105)

Bandung, 6 November 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google



Sembilan bulan sudah saya menyandang status seorang "Istri". Sejak bulan Mei, saya sudah berada di Bandung meninggalkan hiruk pikuk kota Jakarta. Kota yang lebih mendewasakanku.

Betul kata orang-orang, bahwa kehidupan rumah tangga akan jauh berbeda ketika masih lajang. Berumah tangga selain harus siap dengan hadirnya pasangan, harus siap juga dengan peran orang tua.

***

Ijinkan menceritakan kisah hidup saya yang ke-sekian kalinya. Semenjak saya serumah dengan suami, saya dan suami hidup dengan sederhana. Tempat tinggal kami tidak seperti pasangan yang lain yang sudah mempunyai rumah sendiri dan isi rumah yang lengkap. Tak ada sofa untuk tamu, kulkas, mesin cuci dan tentunya barang-barang lain yang umumnya ditemukan di rumah orang lain. Meskipun banyak beberapa hal yang kurang dalam rumah kami, kami tidak merasa kekurangan itu sebagai beban dan penghambat aktivitas kami sehari-hari. 

Rumah kami melewati jalan besar yang di pinggir jalannya terdapat banyak pertokoan. Ada salah satu toko yang memajang sebuah lemari es. Ada rasa untuk memiliki benda itu di dalam hati. Karena beberapa kejadian yang membuatku sedikit miris, apalagi insyaallah kami akan mempunyai anak pertama. Namun apa daya, karena kami merasa benda itu belum menjadi prioritas UTAMA kami, maka saya memilih bersabar sembari selalu bersholawat.

Tiap kami bepergian melintasi toko itu, sembari memandang benda itu saya bersholawat. Selalu. Selalu. Dan selalu.

اللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

Percaya atau tidak. Alhamdulillah. Bebeberapa hari lalu, datanglah benda itu ke rumah kami. Allah memberikan hadiah itu untuk kami. Di saat tak ada tempat bagiku untuk berkeluh kesah dan meminta (karena saya malu, dan saya bukan pengemis), maka hanya kepada Allah lah satu-satunya tempatku berharap dan meminta.

Bandung, 6 November 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google

Perjalanan Hidup Manusia

Bicara mengenai kematian, tak sedikit orang yang ditanya tentang kematian menjawab "Kematian pasti datang" dan sering kali terdengar jawaban "Saya tidak siap mati". Sebenarnya ada beberapa alasan yang membuat manusia berkata "Saya tidak siap mati", antara lain tidak mengenal tuhan, tidak memiliki persiapan yang cukup untuk mati, dan khawatir dengan keluarga yang akan ditinggalkan.

Sering kita jumpai Al-Quran sering membicarakan tentang kematian. Al-Quran menyamakan kematian dengan tidur. Karenanya lah sakaratul maut (datangnya kematian) tidak selalu diartikan dalam kengerian (menyakitkan). Sakaratul maut menghampiri setiap umat manusia secara menyenangkan atau menyakitkan tergantung pada faktor eksteren amal seseorang.

Sehingga manusia tidak perlu takut dengan datangnya kematian, yang perlu ditakuti adalah apa yang terjadi setelah kematian. Yaitu pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan di dunia tentang tiga hal di bawah ini;
  1. Umur
  2. Harta
  3. Ilmu
Lalu bagaimanakah proses kematian itu terjadi?

A. Sebelum Mati
Akan dimulai dengan nyawa akan terasa menghilang sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya nyawa berada di puncaknya yaitu di kerongkongan. Ketika nyawa berada di kerongkongan maka beberapa orang di sekitarnya akan mendengar suara melekik yang keluar.

B. Mati
Ketika telah mati maka roh manusia akan pergi ke alam barzah, pada saat ini diindikasikan bahwa jasat berada di kubur. Alam barzah diumpamakan sebagai ruangan yang tertutup kaca, apabila roh menoleh ke kiri maka akan terlihat keadaan di dunia. Roh melihat keluarga-keluarga yang ditinggalkan. Sedangkan apabila roh menoleh ke kanan, roh akan melihat gambaran akhiratnya nanti (surga atau neraka). Maka sebagai manusia yang masih hidup dan keluarga dari roh yang telah meninggal sebaiknya kita menjaga perbuatan kita agar roh tersebut tidak sedih, dan tidak merasa terbebani. Di Alam barzah inilah roh menanti ditiupnya sangkakala.

Ketika terdengar tiupan sangkakala ke dua, semua orang digiring ke Padang Mahsyar dengan keadaan telanjang. Pada saat itu semua orang sibuk dengan urusan masing-masing.

Ya Allah, permudahkanlah perhitungan amalku

Lalu bagaimanakah cara yang tepat untuk menjemput maut?
Sejatinya manusia di dunia ini ada dua kondisi antara lain menyelesaikan tugas sebagai seorang muslim/manusia yaitu menciptakan kedamaian (Tuhan, orang lain, lingkungan) dan menanti kematian dengan siap dan melupakan kematian.

Sehingga satu-satunya yang bisa kita lakukan selagi masih ada waktu adalah "Jangan mati kecuali dalam islam", apa maksudnya? Yaitu jangan sesaatpun menjauh dari tuntunan Islam. Jika ingin menjemput maut, jangan sekali-kali keluar dari koridor ajaran islam. Selalu bersiap setiap saat melakukan kebaikan untuk menciptakan kedamaian (Tuhan, orang lain, lingkungan) dalam koridor Islam.


Bandung, 12 Oktober 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google Source
Speaker: M. Quraish Shihab

Leboh (Kepulauan Riau), 2018


Alhamdulillah bisa posting pertama setelah saya menyandang status #IstriBapakRiyan. Perjalanan menjadi seorang istri tak mudah memang, berawal dari merasa #guemasihsingle (karena selama satu bulan lebih saya dan suami harus LDR. Beliau di Bandung dan saya di Jakarta) sampai benar-benar menjadi istri.

***

Hunting tiket sudah kami lakukan setelah kami menikah, namun apa daya tetap saja berakhir dengan cuci mata saja yang pada akhirnya tiket terbeli 1-2 bulan menjelang keberangkatan yang nyatanya tiket lumayan mahal guys.

Kami memasuki ramadhan, ah rasanya ada yang hilang. Jikalau tahun lalu saya banyak berkutat dengan masjid dan anak-anak kecil. Kali ini berbeda, saya lebih banyak berkutat di rumah. Karena begitulah yang suami awak mau. Sedih pastilah, tapi saya percaya akan janji Allah kepada hamba-Nya. 

2 Minggu sebelum keberangkatan. Sudah hampir satu minggu ada yang salah dengan badan saya. Terlalu sering mual, dan saya merasa badan ini mulai mudah lelah. Lalu saya mulai memberanikan diri mencari informasi tentang tanda-tanda kehamilan. Saat saya sudah merasa tidak sanggup lagi menahan mual dan muntah, akhirnya kami membeli testpack. Saya tertegun melihat hasilnya, berfikir "Begini ya kalau hamil? Dua strip merah?" lalu saya foto hasil testpack-nya dan langsung saya kirim ke telegram suami awak. Balasan datar melayang dari beliau, "hamil". Sesudahnya kami memutuskan untuk periksa kehamilan ke dokter kandungan. Dokter yang berjodoh dengan bayik adalah Dr. Hanny Rono di RS. Santosa Hospital.

Dr. Hanny tak langsung melakukan USG kepada bayik, beliau bilang akan percuma karena bayik masih kecil dan baru berupa kantong saja. Menjelang pulang seusai konsultasi kami diberi oleh-oleh Muratal Quran untuk diselesaikan khatam ketika ramadhan. Alhamdulillah.

***

Bismillah ya bayik, kita mudik. Mamah tau bayik kuat. Mamah sayang bayik, pabun juga sayang bayik. Let's go!!!
Perjalanan panjang kami mulai bertiga. Sebenarnya banyak yang khawatir, karna umur bayik masih sangat kecil. Mamahnya yang tak sekuat ketika lajang pun jadi penambah haru suasana. Tengah malam kami menuju ke Stasiun Kiara Condong untuk keberangkatan ke Jakarta. Kami sampai di Jakarta menjelang subuh. Kemudian kami langsung memesan go-car menuju Bandara Soekarno Hatta. Setelah menunggu sejenak di Bandara, akhirnya kami terbang menuju Batam. Dalam hati tak henti-hentinya saya bersyukur, akhirnya saya bisa sampai di bagian utara Indonesia selain Bangka Belitung. Mengingat memori masa lalu yang hampir hilang, ternyata dulu suami awak pernah berujar bahwa ia akan membawa saya ke Riau. Saya pikir dulu itu hanya bualan semata, karena kami masih remaja. Tentu saja itu saya anggap hanyalah rayuan cowo tengil kepada seorang wanita.

Sesampainya di Batam, kami langsung menuju Pelabuhan Sekupang untuk menuju ke Balai Karimun. Lalu dilanjutkan perjalanan ke Pulau Leboh. Kapal di sini banyak dan jadwal keberangkatannya berbeda-beda. Perjalanan dari Batam menuju Balai Karimun kurang lebih satu setengah jam. Kami menggunakan kapal Miko. Kata suami awak, nama perusahaan PT. Miko Natalia diambil dari nama pasangan suami istri. 

Sesampainya di Balai Karimun, kami sudah di jemput oleh Bulek Tini. Beliau adalah istri dari Om Man. Awalnya kami berfikir akan meginap semalam di Balai. Dalam hati saya berdoa, agar kami bisa langsung sampai ke Leboh tanpa menginap di Balai. Doa saya ternyata diijabah oleh Allah. Setelah bulek bertanya ke sana kemari, alhamdulillah ada jadwal kapal menuju Pulau Leboh. Kami pun langsung memutuskan untuk berangkat ke Leboh menggunakan kapal Miko lagi.

Di kapal saya memutuskan untuk duduk di dekat pintu masuk kapal atas ijin dari suami awak. Banyak orang bertanya menggunakan Bahasa Melayu, dan itu sukses membuat saya cengoh (tidak paham). Saya tak mengerti sedikitpun pertanyaan-pertanyaan orang melayu ini. Saya lebih sering menjawab pertanyaan dengan senyum.

Sepanjang perjalanan, saya lebih sering mengobrol dengan bayik. Beberapa rayuan kepada bayik semisal agar ia kuat, bayik hebat bisa ikut mudik, bayik sebentar lagi bertemu dengan uyut dan masih banyak lagi perbincangan dengan bayik yang hanya saya dan bayik yang tahu apa isi perbincangan kami. Sembari memandangi lautan lepas, kapal beberapa kali berhenti di beberapa pulau untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Beberapa pulau itu antara lain Buru, Penara dan ada beberapa lagi yang saya sudah lupa.

Sesampainya di Leboh kami dijemput oleh Om Man dan Dek Sekar. Jarak antara rumah Tuk dengan pelabuhan sangat dekat. Hanya membutuhkan waktu 3 menit (bahkan kurang) untuk sampai di rumah Tuk. Kami lelah sekali, sambil selonjoran kami menunggu waktu berbuka. Waktu berbuka di Leboh terasa sangat lama. Hanya hamdalah dan istighfar yang mampu membunuh waktu kala itu.

***

Pengalaman ajaib di Leboh adalah waktu terasa sangatlah lama padahal sama saja dengan waktu di belahan Bandung atau Jakarta. Selain itu jika kalian adalah anak milineal yang tiap waktu dan tiap saat tak bisa lepas dengan internet maka Leboh adalah neraka guys. Only Telkomsel yang ada sinyal, itupun E jika belum jam 5 sore sampai 7 pagi, di luar jam itu maka kalian akan tercengang mendapatkan H+. Bersabar adalah senjata pertama dan terakhir jika ingin berinternetan di Leboh. Selain itu, listrik pun menyala di jam yang sama. Suami awak bercerita bahwa kondisi saat ini di Leboh jauh lebih baik dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, sebelum ada pembangunan oleh pemerintah. Lantas aku pun berfikir, kenapa baru pemerintahan sekarang (Pemerintahan Jokowi) yang mau memikirkan daerah pelosok Indonesa, kenapa dari dulu selalu pulau Jawa? Ah sugguh, terima kasih Pak Jokowi.

***

Lebaran kali ini berbeda, karena statusku baru. Karena aku mempunyai keluarga baru. 
Pagi-pagi aku begitu bahagia karena Allah menyampaikanku pada Ied 1439H ini dengan adanya bayik dalam rahimku. Dengan penuh semangat aku mengenakan baju yang sudah aku persiapkan ketika di Bandung untuk menyambut lebaran kali ini. Tak baru memang, tapi istimewa. Baju pemberian suami sebagai seserahan pernikahan. Ketika shalat ied, entah kenapa tiba-tiba saja air mata mengalir begitu saja mengingat tahun ini aku hanya mampu mengirim barang ke rumah orang tuaku tanpa kehadiranku di lebaran kali ini. Selesai shalat, saya pulang ke rumah Tuk. Ada sedikit sesak rasanya. Saya membayangkan bagaimana beratnya mamah berlebaran di rumah sendirian. Saya pun tidak bisa berbuat apapun, tak ada sinyal. Saya hanya berharap semoga mamah mengerti dan keluarga yang lain pun melakukan hal yang sama.

Berbeda daerah, berbeda budaya. Dan itulah yang aku lihat kali ini. Di Leboh tak ada kebiasaan sungkeman sebagai tanda wujud permintaan maaf dari yang paling muda ke yang paling tua seperti di Jawa. Tak ada memberi uang jajan untuk anak-anak kecil juga. Mungkinkah tradisi ini yang membuat seseorang menjadi malas untuk meminta maaf dan berterima kasih? Entahlah.

***

Hari berlalu, dan akhirnya saya akan segera mengakhiri masa liburan di Leboh. Sehari sebelum penerbangan kami menginap di rumah Om Man (Balai Karimun). Dari Leboh saya berangkat terlebih dahulu dengan bulek Tini ke Balai Karimun. Rasanya surga, akhirnya bisa menikmati listrik 24 jam, akhirnya bisa mendapatkan sinyal, dan yang paling berharga adalah saya bisa berkeliling di Balai.

Saya dan bulek berkeliling menggunakan motor, rasanya sangat nikmat. Keinginan untuk makan mie ayam pun akhirnya terwujud, dan rasa mie ayam-nya JUARA guys. Enak sekali. Super duper mantap. Dan di sinilah saya baru paham kalau KEPRI itu adalah singkatan dari Kepulauan Riau. Oh my lord. 

Sore harinya om Man dan suami baru tiba di Balai. Dari penjelasan suami,  ada beberapa kapal yang melewati Leboh namun tak mengambil penumpang di Leboh yang kemudian ketika kembali ke rumah, Tuk menertawakan suami awak. Alhasil mereka baru berangkat ketika sore menjelang.

Bandara Hang Nadim Batam

Salah Satu Pulau Sebelum Sampai di Leboh

Pelabuhan Leboh yang Tidak Jauh dari Rumah Tuk

Masjid Sholat Tarawih dan Ied yang Tidak Jauh dari Rumah Tuk

Balai Karimun, Rumah Om Man

Bakso Arema, Mie Ayam Super Lezat

Bus Kota Balai Karimun

Steak Ala Bulek Tini

Bandung, 30 Juni 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album




Ramadhan is coming, and we're all in a battle

Alhamdulillah ramadhan is coming. Lalu sudah siapkah jiwa kita menyambutnya? Sudahkah raga kita siap untuk menyambutnya?  Jika belum lalu bagaimana? Yasudah jalani saja. Usahakan yang terbaik untuknya.

Bersyukur adalah salah satu cara berterima kasih kepada Allah yang menghendaki kita sampai pada bulan yang penuh berkah ini.

Di sini saya mempunyai ebook ramadhan planner yang boleh di-download dengan gratis, sehingga dengan adanya ebook ini kita bisa semakin maksimal menjalani puasa kali ini.



Bandung, 15 Mei 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google Album
H-2 goes to Ramadhan 1439 H