"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)

Aku duduk terdiam di tengah kota yang menakutkan ini. Yah, seharusnya aku sudah merebahkan badanku di ranjang tempatku berlabuh di kota ini. Namun apa daya. Kesendirian, itulah yang aku rasa. Sejenak berfikir, apakah aku orang yang tertutup? Ataukah aku individualis dan tidak berkawan? Ataukah aku cuma seonggok daging saja? Ah, pikiran macam apa ini. Jauh-jauh aku buang pikiran ini, tentu. Aku sadar bahwa ilmu adalah hal utama yang kita bisa raih di dunia ini saat ini. Maka itu pula lah alasanku membiarkan diriku sendiri saat ini. Aku sadar bahwa tanggung jawab adalah salah satu pertanggungan kita nanti.

***

"Tak ada yang lain kah?", pertanyaan ini menohok seluruh isi kepalaku. Perlahan seluruh album kenangan berputar. Dan aku tersadar, sepertinya aku hanya mampu menyebut beberapa nama yang mungkin sejak dulu hanya itu yang mampu aku sebut. 2 Sahabat dan kamu. Sedangkan yang lainnya aku tak mampu bahkan berani menyebutnya. Dan aku serahkan pada Tuhan, akankah aku sendiri di sini ataukah ada malaikat yang datang.

Adzan berkumandang, ku pandang langit dan aku berdialog dengan Tuhanku. Hanya aku dan Tuhanku yang tahu. Aku menunggu.

Aku mengerti, meskipun terlambat. Bukan karna saat ini, tapi memang karna aku mengerti sejak beberapa dekade lalu. Ah dasar aku terlalu egois, ah dasar aku terlalu sombong, ah dasar aku wanita terburuk. Betapa aku sungguh anak kecil yang belum mampu membedakan baik dan buruk. Betapa aku terlalu anak kecil yang ternyata begitu begisnya cara pandangku.

Yah, begitulah kehidupan. Begitulah cara Tuhan memberi tahu kita, mengajari kita dengan waktu yang telah terlewat.

Di tempat ibadah ini, di samping tempatmu duduk terdiam. Sebuah botol minum yang masih rapat begitu saja kau tinggalkan. Ingin aku menyapa, botol siapa itu dan untuk apakah itu. Namun, tak ada sisa nyali untukku bertanya. Aku terlalu banyak mendapatkan pertolonganmu.
Aku bukan bercerita tentang masa lalu, merindu atau bahkan mengharap kembali untuk masa lalu itu. Aku hanya belajar dari masa lalu itu. Kamu laki-laki hebat yang pernah aku temui. Dan aku berdoa yang terbaik untuk kehidupanmu dan kebahagianmu.
Mungkin beginilah cara Tuhan, cara Tuhan mendewasakan umatnya.

Jakarta, November 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album

411 : Aksi Bela Quran
***

Cinta. Mungkin hal itulah yang menjadi alasan kenapa kami berpanas-panas ria di Ibukota ini. Mungkin beberapa orang akan menganggap hina. Mungkin sebagian lain mencaci sejadi-jadinya di keheningan kota ini. 

Kini aku semakin mengerti cinta yang pantas untuk lebih diperjuangkan, cinta yang bukan semu, cinta yang mengharu biru dengan penuh keteduhan, cinta yang menenangkan, cinta yang kau berjuang dengan segenap raga. Adalah Cinta karena Rabb semata.

Beberapa hari menjelang hari itu, alhamdulillah cuti yang aku layangkan kepada atasanku diterima. Aku termasuk orang paling beruntung. Karena beberapa dari kawanku hanya mampu mengirimkan doa untuk ikut andil dalam aksi tersebut.

Kemudian di hari pelaksanaan. Aku hanya mampu berdoa, sekiranya ini adalah hari terakhirku maka semoga engkau meridhai semua perjuangan ini.



Jakarta, 4 November 2016 | ©www.anitasarisukardi.com


Image Source: Personal Album

Mahasiswa Angkatan 2016 Politeknik Elektro Negeri Surabaya

***

Istimewa rasanya menjadi mahasiswa baru. Bangga sekaligus was-was memang menapaki jalur ini. Ragam pertanyaan muncul bertubi-tubi melengkapi segala kekhawatiran. Sanggupkah membayar kuliahnya kedepan, Sanggupkah menyelesaikan tugas-tugas kuliah, sanggupkah menjalani kuliah di sela-sela bekerja, Masih banyak hal yang lain tentunya.

Sesuatu yang ribuan tahun sudah ditetapkan untukmu, tak akan pernah lari darimu

Setidaknya hal itulah yang aku tahu tentang kehidupan ini. Beberapa kali sebelum resmi menjadi mahasiswa, dari segi biaya dan proses seleksinya aku mengalami banyak kesulitan. Tapi itulah kehidupan. Kita hanyalah pelakon dalam scenario yang telah Allah buat untuk kita.

Jadwal kuliah yang padat. Rasanya seperti bunuh diri memang. Senin - Kamis, Sabtu dan Minggu. Nyaris akan membawa banyak perubahan ke dalam aktivitasku. Entah mengaji, mengajar, dan jalan-jalan pasti akan banyak tersita. Hal itu banyak memberi pelajaran bagiku ternyata, tentang "Prioritas Hidup". Tentang apa yang kita usahakan sekarang, dan untuk apa kita mengusahakannya.



Jakarta, 29 Oktober 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
 Image Source: Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

Festival Payung Nusantara 2016
Padamu yang berat menerima bahwa cinta tak harus memiliki, padamu yang terlambat mengerti hati sendiri, dan padamu yang terluka dan terkhianati.
***

Sekali lagi, aku terpesona pada Alam dan Budaya Indonesia. Ragam budaya begitu tak ada duanya.



Setiabudi - Jakarta, 28 September 2016 | ©www.anitasarisukardi.com


Image Source: Personal Album


71 Indonesia | Kerja Nyata
Syahdu memang, memandangmu tak pernah ku merasa lelah. Meski raga ini terkoyak. Apa yang aku bisa lakukan untukmu duhai negeriku?
***

Dulu saat pertama kali kakiku menginjakkan ibu kota ini sempat bibir berkata ingin rasanya untuk memandang kota ini dari puncak, Monas. Dan akan pernah ku sangka bisikan itu menjadi kenyataan sekarang.

Setelah dhuhur aku berangkat dari kosan (Setia Budi) menuju ke kawasan Monas, sesampainya di sana sejenak aku menikmati rimbunnya pohon-pohon, kicauan burung kecil ditemani sebuah buku sembari menanti kedatangan seorang kawan. Setelah dia tiba, kami segera bergegas menuju Monas.

Sayang seribu sayang, ternyata kami kehabisan tiket untuk kesempatan menuju Puncak Monas, dan loket akan dibuka kembali pada pukul 07.00 PM. Kami pun tak kehabisan cara untuk menanti. Kami mulai melangkahkan kami menuju halte bus Wisata Jakarta yang disediakan oleh pemerintah Jakarta secara gratis.

Setelah magrib, kami mulai mengantri untuk mendapatkan tiket masuk menuju puncak. Taukah kalian ternyata demi mendapatkan tiket itu kami harus bersabar dan bertekat penuh. Antrian loket sudah mirip dengan ular tangga, kebayang bukan betapa lamanya. Kalau bukan karena niat yang lurus dan tekat yang serius, barang kali mimpi ke Puncak Monas hanyalah sebuah angan-angan.

Monas

Dari Puncak Monas, kita dapat memamdang hamparan luas Ibu Kota Indonesia. Jalanan yang hampir setiap hari ku lalui sepulang kantor, gedung-gedung yang tak pernah lelah membuatku selalu ingin mondongak ke atas, tempat ibadah yang selalu menentramkan hatiku. Ah, hanya sebuah kata syukur yang hanya mampu menggambarkan perasaan ini, cinta kepada negeri ini.

Puncak Monas
Berdasarkan pengalaman saya, barangkali hal-hal berikut bisa menjadi referensi untuk Menuju Puncak Monas:
  1. Jam operasi terdapat dua sesi, yaitu pagi sampai jam 16.00 dan jam 19.00-22.00 WIB.
  2. Ada batasan tiket yang dijual untuk menuju Puncak Monas, dari perjalanan saya hanya dibuka 500 tiket.
  3. Antrian pasti panjang, dan akan sangat membosankan. Bunuh waktu membosankan dengan membaca buku, atau berdiskusi dengan orang.
  4. Nah jika kalian sudah merencanakan ingin ke puncak siang hari namun sudah kehabisan tiket (Seperti Saya), barang kali anda bisa membeli tiket untuk ke Museum sembari menunggu Loket jam malam dibuka. Jangan khawatir untuk sholat, karena di dalam Museum terdapat tempat untuk sholat.
  5. Jangan lupa mampir ke Warung Es Krim di samping Masjid Istiqlal Jakarta untuk menyempurnakan nikmat liburan.

Monas - Jakarta, 17 Agustus 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album

Berpura-puralah menjadi sholeh, sampai suatu ketika engkau lupa bahwa engkau sedang berpura-pura sholeh

Banyak orang yang sejatinya belum mengerti dirinya sendiri. Tak tahu apa yang sebenarnya ia nanti dan apa yang ia tuju. Lalu bagaimana denganku? Aku pasti dengan bangga akan mampu menjawab hal itu. Aku hanya berusaha untuk menyiapkan kematianku.

Hei hei, jangan merinding begitu. Itu hal lumrah kok.
Seperti kita punya mimpi, kita harus berusaha mewujudkan mimpi itu.

Ramadhan ini, ya sesuatu yang sangat berbeda. Barang kali banyak yang berubah dari kesempatan Ramadhan tahun lalu. Kata teman dekatku, sofia "Nikmati saja, nanti juga akan expired".

***

Lima hari berlalu ketika awal ramadhan, dan hari berakhir dengan kesibukan rutinitas kerja di kantor client yang baru selesai ketika malam beradu. Weekend aku manfaatkan untuk ke Bandung. Berkumpul dengan #pemudaistiqomah.

Part 1 - Pelantikan Pemuda Istiqomah 2015
Waktu itu kami melingkar, sekedar berbincang menjelang waktu berbuka. Saat itu ada sebuah permainan singkat tentang sebuah nama yang kau ingin disebut dengannya dan dua kata tentang pemuda istiqomah.

Beragam dari kami menjawab pertanyaan itu. Aku sendiri waktu itu menjawab "Ummu ahmad" untuk nama panggilan, dan "Second Family" untuk pemuda istiqomah. Barang kali panggilan ahmad untuk orang lain terdengar biasa saja, dan sangat lumrah bahkan sangat umum. Tapi untukku sendiri, ahmad begitu khas dan special. Entah bagaimana aku mampu menjelaskannya. Muhammad dengan panggilannya ahmad. Hanya nama itu yang terbersit di kepalaku ketika menjawab pertanyaan itu.
Mungkinkah itu yang disebut cinta? Sekiranya iya, aku berharap cinta itu murni dan tulus. Padaku untuknya, seperti ia mencintai kami hingga hari kebangkitan. Kemudian pemuda istiqomah untukku, ketika aku lelah dan penat aku akan pulang ke Bandung. Ke tempat ini, pemuda istiqomah.


Part 2 - Takjil On The Road
Setelah prosesi acara pelantikan selesai, kami disambut dengan persiapan berbuka puasa. Aku memilih untuk Takjil On The Road.
Dari kegiatan itu, banyak hal yang aku dapatkan. Bahwa aku bukan apa-apa, bahwa aku bukan sendiri. Aku bersyukur masih mampu merasakan kenikmatan berbagi. Berbagi kepada orang tua yang bekerja keras menjadi supir angkot, anak-anak kecil yang berjualan tissu di perempatan traffic light, pun kepada lelaki tua memungut sampah.



Click this link for check our Video >> Takjil On The Road




Sunter - Jakarta, 22 June 2016 [04.24 PM] | ©www.anitasarisukardi.com

Puncak Gn. Slamet - Jawa Tengah, 7 Mei 2016 [09.45]

Bukan gunung tertinggi yang patut untuk ku taklukkan, bukan lautan terdalam yang patut untuk ku taklukkan. Melainkan adalah diriku sendiri, egoku sendiri.

Dua sujud dan syair kalam-Nya membawaku terhanyut. Di atas  sana aku tertunduk. Pandanganku menerawang jauh. Begitu kecilnya aku. Dan begitu pemurahnya sang pencipta. Satu bulan yang lalu, entah mengapa aku begitu mengiyakan untuk mengikuti acara teman-temanku ini. Mungkinkah aku mencari tempat pelarian? atau mungkin aku ingin keluar dari zona nyamanku saat ini?

Puncak Gn. Slamet, Jawa Tengah (‎3.428 MDPL)


***

Tepat tiga hari setelah kemelut pribadi akan keikut sertaanku dalam acara ini. Yah pendakian ke GunungSlamet. Pikirku tak mungkin aku pergi dalam kondisi seperti ini, keuangan yang mepet, banyaknya kebutuhan yang harus diselesaikan dan daftar list yang dikirimkan seorang teman beberapa hari lalu membuatku semakin menciut. Tak ada satupun dari daftar itu yang aku punyai. Terlebih, salah seorang teman wanita yang ku anggap sebagai kakak sendiri kemungkinan tidak ikut serta juga.

Malam itu belasan panggilan tak terjawab terlihat di telepon genggamku setelah acara ku kirim pesan singkat berisi pembatalan keikutsertaanku. Siapa lagi kalau bukan si mba. Sekonyong-konyongnya dia mengomel. Keesokan harinya aku hanya sanggup menjelaskan kepadanya bahwa aku tertidur.

Jadi bagaimana kelanjutannya? Kalian pasti tahu jawaban apa yang tepat ku ambil. Saat ini ini aku di stasiun, menanti kedatangan mereka satu persatu. Saat ini aku hanya berfikir tak ingin mengecewakan lagi. Bagaimana tidak, bukankah aku beruntung bertemu dengan mereka? Ada mba yang slalu khawatir serta meminjamiku sendal gunungnya, ada si botak yang membantuku mendapatkan sleeping bag, ada mas wawan yang malam-malan sepulang kerja mengantarkan tas carrier-nya, ada koh biyan yang meminjamiku headlamp-nya, dan masih hal kecil lain yang benar-benar membuatku merasa lebih berarti, aku terenyuh.

Kereta kini melewati Purwakarta, dan kulihat di sebelah kanan ada tumpukan gerbong usang yang sudah terpakai. Meski rongsokan, namun apik dalam sebuah pandangan.

Siang itu, sekitar pukul setengah satu.

"Pak, tak adakah jalan lain untuk kami menuju Purwokerto?", "Ndak ada neng, kalau pun kalian mengejar ke stasiun berikutnya juga percuma. Saat ini perjalanan ke sana sedang macet parah."

Penggalan percakapan itu terjadi setelah aku dan mba berlari mengejar kereta yang tak sedikitpun ia memberi kami kesempatan kedua. Dan kulihat si botak berada di depan pintu melambaikan tangan untuk mba, yang seakan-akan nostalgia drama India dimulai. Namun, tak tersentuh.

"Adegan romantis, barangkali hanyalah mimpi yang tertunda dalam sebuah sinetron atau drama Korea" begitulah pikirku sekarang. Secepat apapun kami menejar, tak akan mengubah apapun. Kereta dengan angkuhnya meninggalkan kami. Habislah sudah aku dan mba. Aku tak membawa telepon genggam, uangpun hanya ada 25.000,00 di kantong saku-ku dan mba pun juga hanya memegang uang 50.000,00 di tangannya.

Pelan, lesu. Itulah aku dan mba waktu itu setelah menjadi tontonan ratusan pengunjung stasiun Bandung. Ada dari mereka merasa iba, ada pula mungkin mencaci kami di dalam hati. Tiba-tiba  kulihat si botak. Amboiii, kalau yang satu ini baru dewa. Tak kusangka memang. Ternyata masih ada pula laki-laki yang begini. Setelah sebelumnya cuma memandang kami jauh dari ambang pintu kereta akhirnya dia di depan kami sekarang. Dia turun dari kereta.

Perjalanan tak terhenti memang, masih berlanjut. Kami akhirnya memutuskan naik bus, "Goodwill" nama bus tersebut. Namanya membuatku semakin terenyuh, Melankolis memang.
Dalam sebuah tragedi pasti ada hikmah yang akan selalu menjadi pelajaran, dan jangan pernah membiarkan sebuah tragedi akan memperburuk kondisimu. 
Jangan sebut kami trio melankolis, tak ada dalam kisah kami. Saat yang lain mungkin bertanya kondisi kami, khawatir dengan kami. Kami sendiri sedang menikmati saat ini. Apel, es krim, minuman dingin dan beberapa snack menjadi pelengkap perjalanan kami selanjutnya.

Trio pemeran utama "Mengejar Slamet Tak Seindah Sinetron"

Subuh akhirnya kami tiba di Purwokerto setelah sekian lama tertidur dalam bus. Ah ku kira kami sudah sampai begitu dekat tapi ternyata hanya ilusi semata. Kau tau seberapa jauh perjalanan berikutnya? Kami harus naik ojek menuju terminal yang jaraknya ditempuh dalam waktu kurang lebih setengah jam kemudian naik bus desa menuju pertigaan kearah gunung Slamet. Pasalnya kami tak tahu harus naik apa dari terminal (ketika kami turun dari ojek), pun tukang ojeknya tak tahu persis. Kami hanya mengasal masuk bus ketika dalam bus itu terlihat beberapa orang yang membawa tas carrier besar (Pendaki). Dilanjutkan dengan menaiki sebuah mobil kecil untuk menuju pos persiapan tempat teman-teman yang lain menunggu.

"Kalian mau naik gunung? Carrier-nya mana, sini biar bapak rapikan di atas mobil". Dan jelas kami hanya tersenyum menanggapi bapak sopir tersebut.

Hawa dingin dan sejuknya angin diluar menghembus dengan lembut meraih jemariku. Sengaja ku keluarkan tanganku untuk merasakan angin di luar mobil. Akhirnya kami sampai di pos tempat teman-teman kami bermalam. Ah riuh sekali mereka kami datang. Bak buronan yang siap dicincang. Ah, rasanya manis memang perjalanan ini. Ku lihat kami semua sudah kumplit sekarang, 11 jemaah penakluk Gn, Slamet; Koh biyan, tuti, hamdan, teguh, ridho, bang rifki, inna, mas wawan, si botak roni, mba icha, dan tentunya aku.

Pasukan Liliput Memuncak
09.45 WIB Kami mulai menjinjing tas kami. Aku tak asing lagi dengan udara ini, tanah basah, pepohonan rindang. Ah semesta. . .




Bandung, 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album


Begitu telatnya ketika aku menceritakan pengalaman ini. But, whateverlah kawan. Sedari pagi tadi di kantor aku sudah berniat dengan seyakin-yakinnya untuk mulai kembali menulis pengalaman hidupku. Bukan untuk menyombong, tetapi menurutku akan lebih baik jika orang lain mendapatkan manfaat dari apa yang mereka baca dari apa yang aku alami. Toh berbagi tidak ada ruginya.

***

Danau Kaolin waktu itu bagiku adalah mesin pembunuh bagiku. Ia indah, namun mematikan. Aku ingat betul, perlahan ia menarik kakiku. semakin ke dalam. Kau pasti tak akan pernah percaya, tapi betul itu terjadi. Kau lihat bekas kotor di bajuku itu? Iya, itu adalah bekas ia menarikku. Ah, aku hanya bisa pasrah kala itu, beberapa temanku hanya bisa berteriak. Mereka takut ketika hendak menolongku, takut akan ditarik pula oleh Danau itu.

Aku begitu bersyukur, ternyata aku masih diberikan waktu sampai sekarang untuk menuliskan pengalaman waktu itu. Sobat, berhati-hatilah kita dengan keindahan. Karena tidak akan pernah tahu apa yang ia simpan dalam keindahannya itu. Bisa jadi racun, bisa jadi dia makanan manis. Tapi siapa yang tahu bukan?

Danau Kaolin
Tapi jangan kau tanya bagaimana aku sampai ke sana. Yang Jelas perjalanan itu begitu berliku. Begitu mengenang.

***
Matahari mulai beradu dengan bulan ketika kakiku mendarat di Tanah Belitung kala itu. Meskipun tak sedingin Bandung, dan tak sepanas Surabaya, tempat ini pasti akan menjadi tempat yang paling aku rindukan di masa mendatangku nanti.

Hari berganti hari, dari kami satu persatu menyelesaikan misi. Awan melambaikan salam dari pencipta kami. Langit-langit yang beradu keindahan untuk menemani kami yang sedang berjuang.

Kalau kau bertanya bagaimana Belitung? Aku menjawab, "Inilah salah satu surga di bumi kita Indonesia".

Inilah surga Belitung, keindahan alam dari sisi pantainya. Siapa yang tak akan jatuh cinta dengan indahnya ia. Berarti dia bodoh. Atau barangkali tak bisa bersyukur.

Tanjung Pandan Airport

Senja Ketika Kedatanganku

Pantai

Di Batu Itu, Aku Bersujud

Mercusuar



Danau Kaolin, Belitung

Danau Kaolin, Belitung

Sunrise Belitung

Belitung, 2015 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album

Semenjak Rasulullah wafat, Bilal menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata : "Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi."

Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. Kesedihan sebab ditinggal wafat Rasulullah terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.

Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya : "Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?"

Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah ke makam Rasulullah. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah. Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, pada sang kekasih. Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut.

Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal : "Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami."

Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.
Bilal pun memenuhi permintaan itu.

Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan.

Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.

Ketika Bilal meneriakkan kata Asyhadu an laa ilaha illallah, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar. Dan saat bilal mengumandangkan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan.

Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah diantara mereka.
Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. Adzan yang tak bisa dirampungkan.

Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
 Original Writer: Satria Hadilubis

Image Source: No Image


Terkisah dari Sultan Murad IV (Sultan Turki Utsmani, memerintah Juni 1612 - Februari 1640). Kisah ini terabadikan di dalam buku hariannya.


​Suatu malam Sang Sultan merasa sangat galau, ia ingin mengetahui apa penyebabnya. Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan mengatakan bahwa ia akan pergi keluar istana dengan menyamar. Sesuatu yang memang biasa beliau lakukan.



Sultan berkata: "Mari kita keluar, kita blusukan melihat wargaku".



Mereka pun pergi, udara saat itu sangat panas. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Disentuh dan dibangunkan oleh Sultan, ternyata ia telah wafat. Orang-orang yang lewat di sekitarnya tidak ada yang peduli kepada mayat tersebut.



Maka Sultan memanggil mereka, kemudian mereka bertanya: "Ada apa? Apa yang kau inginkan?".



Sultan berkata: "Mengapa orang ini wafat tapi tidak ada satu pun diantara kalian yang membawanya? Siapa dia? Dimana keluarganya?"



Mereka berkata: "Orang ini Zindiq, pelaku maksiat, dia selalu minum khamar dan selalu berzina dengan pelacur".



Sultan berkata: "Tapi . . bukankah ia juga umat Muhammad SAW? Ayo angkat dia, kita bawa ke rumahnya".



Mereka pun membawa mayat laki-laki itu ke rumahnya.



Ketika sampai di rumahnya, saat istri laki-laki tersebut mengetahui suaminya telah wafat, ia pun menangis. Tapi orang-orang langsung pergi, hanya sang Sultan dan kepala pengawalnya yang masih tinggal.



Kemudian Sultan berkata kepada istri laki-laki itu: "Aku mendengar dari orang-orang disini, mereka berkata bahwa suamimu itu dikenal suka melakukan kemaksiatan ini dan itu, hingga mereka tidak peduli akan kematiannya".



Sang istri pun bercerita:



"Awalnya aku menduga seperti itu. Suamiku setiap malam keluar rumah pergi ke toko minuman keras (khamar), kemudian membeli sesuai kemampuannya. Ia bawa khamar itu ke rumah, kemudian membuangnya ke dalam toilet, sambil berkata: "Aku telah meringankan dosa kaum muslimin".



Dia juga selalu pergi ke tempat pelacuran, memberi mereka uang dan berkata: "Malam ini merupakan jatah waktuku, jadi tutup pintumu sampai pagi, jangan kau terima tamu lain!".



Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: "Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa pemuda-pemuda Islam".



Tapi, orang-orang yang melihatnya mengira bahwa ia selalu minum khamar dan melakukan perzinahan. Dan berita ini pun menyebar di masyarakat.



Sampai akhirnya suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: "Kalau nanti kamu mati, maka tidak akan ada kaum muslimin yang akan memandikan jenazahmu, tidak ada yang akan mensholatimu, tidak ada pula yang menguburkanmu".



Ia hanya tertawa, dan berkata: "Jangan takut sayangku, jika aku mati, aku akan disholati oleh Sultannya kaum muslimin, oleh para Ulama dan para Auliya".



Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata: "Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, mensholatinya dan menguburkannya".


Demikianlah, akhirnya jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para syeikh dan seluruh warga masyarakat.

Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com

Image Source: Unknown

Dia yang mengkaji Al Quran agunglah bobotnya.
Dia yang mempelajari Fiqh mulialah kadarnya.
Dia yang menulis hadits menguatlah hujjahnya.

"Imam Asy Syafi’i (Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i)"

Begitulah salah seorang tokoh yang mengabdikan kehidupan untuk penyelaman, penyelaman ilmu. Seperti apa yang diberitahukan oleh Allah dalam firmannya.


وَلَوْ أَنَّمَا فِي الأرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
QS. Al Luqman : 27

Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com

Image Source: Unknown

Dalam Dekapan Ukhuwah

Allah memberikan apa yang kita butuhan, bukan yang kita inginkan
Begitulah kiranya rajutan makna itu mengalun. Yah, waktu itu kami berkumpul di pernikahan Mba Alfi (Politeknik Telkom 2008). Saat itu kami berkumpul untuk saling bertukar kado. 

Dear ukhti shalihah, yang
Bidadari syurga pun cemburu
Karna kesalihanmu ^_^
Aku bukan pujangga yang bisa
menulis syair dengan indah, aku
hanya bisa mengatakan bahwa
engkau adalah bidadari dunia yang
Allah turunkan di kehidupanku.
Semoga ukhuwah ini mengantar
kita ke syurga ... Amiin ^_^
With Love
Vera

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangun dari sini, dekapan ukhuwah.

Buku ini, Allah kirimkan melalui vera agar aku terbangun dari mimpi kesendirianku. Saat sepi-sepiku dalam cobaan yang dihadirkan-Nya untukku.

Bandung, 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Souce: Personal Album