"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)

Uwais
Belum dikatakan berbuat baik kepada Islam, orang yang belum berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Dialah Uwais seorang pemuda yang tinggal di Yaman, sebuah negara di Jazirah Arab di Asia Barat Daya, bagian dari Timur Tengah. Uwais adalah pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya.

Suatu ketika ibu uwais berkata, "Anakku bawalah aku untuk melaksanakan haji, usiaku kini sudah sangat mendekati ajal." Uwais saat itu hanya diam dan tak mampu berkata sepatah katapun. Uwais termenung. Perjalanan menuju Mekah sangatlah jauh, sedangkan ia sendiri bukanlah orang yang kaya. "Bagaimana aku harus membawa ibu ke Mekah?", ujarnya dalam hati.

"Hei Uwais, anak sapi yang kau gendong itu tak akan pernah bisa menggendongmu kembali dari desa ini ke bukit itu. Kamu sudah gila Uwais." Begitulah cemooh dari penduduk desa yang keheranan dengan sikap Uwais ini. Penduduk desa tidak mengerti kenapa setiap hari Uwais menggendong anak sapi itu naik-turun bukit.

Delapan bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Dengan badan yang badan kekar, kini Uwais telah siap untuk menggendong Ibunya menuju ke kota Mekah untuk melaksanakan haji. Penduduk desa pun akhirnya mengerti alasan utama Uwais menggendong anak sapi yang berubah menjadi sapi dewasa naik-turun bukit. Yakni agar ia kuat membawa ibunya ke Mekah untuk melaksanakan haji.

Setelah melakukan tawaf, Uwais berdoa memohon ampun untuk ibunya. "Ya Allah, ampunkanlah ibuku. Ampunkanlah Ibuku." Sang ibu yang berada di sampingnya pun menangis sejadi-jadinya seraya berkata, "Bagaimana dengan dosamu Uwais, memohon ampunlah kepada Allah atas dosamu. Jangan kau memohonkan ampun untukku terus." Kemudian Uwais pun berkata "Tidak ibu. Aku akan tetap memohonkan ampun untukmu ibu. Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

***

Adakah di dunia ini masih tersisa cinta kasih seorang anak seperti cintanya Uwais kepada Ibunya? Semoga kita bisa meneladani sikap Uwais ini. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan suatu kebaikan, termasuk kebaikan kepada orang tua. Mungkin sangat terlambat bagi kita, namun terlambat lebih baik dibandingkan tidak sama sekali.

Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com


Image Source: Unknown

Anita Sari Sukardi Mom's (Supini)

Tak akan pernah cukup buih di lautan menggantikan cinta yang beliau berikan kepada kita. Cinta tanpa syarat!

Tak akan pernah ada yang menggantikan wanita asli keturunan jawa, berparas mempesona dan tidak semampai ini. Yah dia adalah mamahku. Aku tak bergeming jika orang lain selalu membandingkan beliau dengan wanita lain yang jauuuh berbeda. Bagiku mamah tetap wanita tercantik untukku meskipun aku akui beliau memiliki banyak kekurangan sebagai seorang manusia.

Bohong rasanya kalau aku dulu tak malu ketika ditanya "Ibunya bekerja sebagai apa?", namun kini anggapan itu sudah tak pernah ada lagi dalam benakku. Yah karena aku sekarang paham betul begitu beratnya status "Ibu rumah tangga".

Mamahku memang tak menempuh pendidikan, pernah suatu ketika mamah bercerita "Dulu mbahmu itu, ndak suka melihat mama sekolah. Yen wis wayahe sekolah, mesti dikon ning kebon. Wis ning kebon ae, sesuk esoh mangan. Sekolah dienggo opo, sing penting mangan!" Aku paham betul begitu beliau menyesali hal tersebut. Tak bisa belajar, hanya manut dan manut. Mamahku menikah muda saat itu, dengan seorang lelaki yang berani datang meminta kepada kakekku hanya karena tertarik pada pandangan pertama ke mamah. Yah, dia abahku yang kini menjadi mantan suami dari mamahku.

Beberapa bagian kisahnya ada andilnya diriku. Seperti saat saat itu aku yang baru bisa merangkak, mamahku diuji dengan kehilangan anak ke duanya. Di saat suaminya sibuk bekerja, beliau harus kuat memikul beban kehilangan itu. Beliau menahan tangisnya ketika aku bertanya, "Mama mbak kemana?". Mamah selalu mengerjakan keperluan rumah tangga dan pekerja meubel abah sendiri tanpa campur tangan orang lain. Lelahnya mengurus dua orang putri pasti tak mudah, apalagi aku. Aku anak terbandel sejagad raya mungkin menurut mamahku. Aku tipikal manja yang ketika meminta "sesuatu" harus aku didapatkan. Mengamuk di pasar, nangis sejadi-jadinya dan tak mau beranjak dari toko adalah senjataku waktu itu. Suatu ketika mamahku memiliki pembantu, sayangnya pembantu itu tak berperangai baik. Dan alhasil membuat mamahku trauma. Di episode lain, ketika rumah tangga mamah diuji dengan hadirnya orang ketika pertama kali. Kekerasan rumah tangga yang sering kita saksikan di sinetron-sinetron itu bukan hanya angan-angan semata. Nyatanya mamahku melewati itu semua. Mamahku memelukku erat di saat terberat itu, aku yang tak paham apa-apa kala itu cuma diam dan menepis air matanya saja. Episode-episode selanjutnya terus berlanjut pada kisah yang sudah tak mampu lagi diselamatkan. Di tahun 2013, pengkhianatan ke sekian kalinya. Akhirnya mamahku memutuskan berpisah.

Kini usiaku seperempat abad lewat ini, aku menangisi begitu aku belum mampu membuat mamahku bangga. Di detik ini pula, tak ada secuil kata untuk mampu membandingkan diri dengan mamah. Aku selalu berfikir, apa aku bisa menjadi seorang ibu sekuat mamah? Apa aku sanggup menjadi seorang istri yang merawat dan membesarkan anak seperti aku dan mba? Ah Tuhan, hanya pada-Mu aku memohon. Memohon segala yang terbaik, memohon untuk engkau mampukan aku menjadi penyejuk bagi Mamahku, mampukan aku untuk membuatnya bangga, membuatnya tersenyum.

Janjiku, akulah yang akan merawatmu di usia rentamu nanti. Akan aku gendong mamah kalau mamah tak sanggup lagi berjalan. Memandikan mamah, seperti aku waktu kecil. Mengganti suapan makanan yang sampai saat ini masih aku meminta padamu. Memakaikan baju, menggantikan popok, semuanya, segalanya.

Ya Allah, ijinkan aku menemani mamah untuk berhaji yang dijadwalkan 2021. Aku tak ingin beliau sendiri menunaikan perintahmu.

Ya Allah, ijinkan hamba untuk berbuat bakti kepada mamah. Ijinkan anak-anak, cucu, dan generasi penerusku mampu mengenalnya dengan baik, belajar yang terbaik dari beliau. Amin.

Jika tak ada seorang pun yang mengenal mamahku, ijinkan aku mengenang beliau dengan coretan kecil ini. Mamahku, Supini.

Jakarta,  Juni 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album


Dan apa yang sanggup kita tinggalkan untuk anak kita?
#SerialBaca
Menjadi orang tua memang tantangan hidup tersendiri. Tak mudah, namun tak sulit pula. Banyak hal yang perlu dipersiapkan demi anak. Orang tua harus mampu mendidik anak agar nantinya sang anak menjadi pribadi yang mandiri. Hal tersebut harus dipupuk sejak dini sehingga ketika anak sudah baligh, sang anak sudah siap.

Berikut adalah persiapan-persiapan tersebut:
  1. Ketika anda akan sholat, ajaklah anak berjamaah, agar dia menjadi anak ahli ibadah.
  2. Ketika anda akan berinfak, maka suruhlah dia yg memberikan pada orang lain, agar jiwa kepedulianya berkembang sempurna.
  3. Bila anda sedang berjalan bersama, maka kisahkan perjalanan hidup anda yang terkesan agar dia bertambah hikmahnya.
  4. Bila anda akan tidur, maka kisahkan sebentar kepadanya tentang orang sholeh agar berkah ilmunya.
  5. Bila anda sedang sakit, maka pesankan supaya dia mau menjadi anak sholeh yang selalu mendoakan anda, agar terkesan hidupnya.
  6. Bila anda pulang mengaji, maka sampaikan kesimpulan ringkas tentang hasilnya, agar ilmumu masuk sebelum orang lain mengajarkan kepadanya.
  7. Bila anda akan pergi, maka ucapkan kata perpisahan "Nak, aku cinta kamu karena Allah", agar selalu bahagia hatinya.
  8. Bila anda sedang bersedih, maka mintalah dia berdoa dengan bahasa yang mudah dipahami, sedangkan anda mengamininya, agar jiwanya teringat Allah.
Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Unknown


Rekening Peduli Palestine dan Aleppo
Jangan biarkan matamu terlena tentang apa yang tak diperlihatkan dunia. Nyatanya, saudara kita merenggut nyawa dari dulu hingga sekarang.

Berikut adalah nomor Rekening Peduli Palestine dan Aleppo

Adara Relief International
Bank Mandiri a.n Adara Relief International | 0700005658799
Bank Muamalat a.n a.n Adara Relief International | 3090002717
Konfirmasi Donasi : 0815 9116 647 (Indah)

Closing Arisan Jakarta Poenya Periode 1

Pada akhirnya kita menyerah pada waktu. Tahun lalu arisan jakarta ini dibentuk dengan tujuan untuk merutinkan acara kongkow bareng para anak-anak main alumni Politeknik Telkom Bandung yang sekarang singgah di Jakarta. Personil arisan ini terdiri 17 orang yang notabene hanya 1 peserta yang berstatus "Bapak", seorang yang berstatus "Istri" dan sisanya adalah "Single Bahagia".

Semoga jalinan persahabatan ini kekal hingga ke Surga-Nya kelak. Kami masing-masing masih punya cacat sana-sini, tapi dengan kekurangan itulah kami belajar Saling Memahami. Tidak Menuntut. Saling Mengerti. Dan Apa adanya.

Closing Arisan Jakarta Poenya Periode 1 Gaya Hesemeleh



Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
 Image Source: Personal Album

My Mumu


Bagaimana aku harus mengikhlaskanmu Mu?
Aku hanya berharap kita akan berjumpa lagi kelak di SurgaNya nanti


Boyolali, 21 Januari 2017
6th years with Mumu

Communication
#SerialBaca
Sering kali kita mendapati beberapa orang tidak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh penyampai pesan. Termasuk kita dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini memberikan efek yang besar jika sang penerima pesan tidak mampu mengolah informasi dengan benar.

Apa kunci agar orang lain paham dengan yang kita sampaikan?
Yaitu sang penyampai pesan harus memahami karakter penerima pesan. Penyampai pesan harus menyampaikan pesan sesuai dengan karakter penerima pesan, misalnya ketika akan menyampaikan pesan X kepada penerima A yang model menangkap pesan adalah 1. Penyampai pesan akan menyampaikan pesan X kepada penerima B yang model menangkap pesan adalah 2, maka penyampai pesan harus menyampaikan pesan se X dengan model 1 kepada penerima A, dan model 2 kepada penerima B. Sehingga sang penyampai pesan tepat menyampaikan pesan.


Bandung, 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Unknown

211 : Aksi Bela Islam 3
"Sesungguhnya Allah SWT itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia," lalu para sahabat bertanya, "Siapakah mereka itu Ya Rasulullah?" Beliau menjawab: "yaitu Ahlul Quran. Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang istimewa bagi Allah."

(HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ad Darimi dan Al Hakim)

***

Pagi itu ramai terdengar berbondong-bondong orang menuju Monas (Jakarta). Hatiku pun tak luput dari rasa bergetar yang entah tak tahu dari mana arah datangnya.

Beranjak siang, aku dan beberapa teman sekantor (Fujitsu Indonesia) mulai meninggalkan tempat duduk masing-masing. Pasti ada sesuatu yang Allah rancang ketika kita dipertemukan. 

Hujan beranjak turun ketika kami mulai melangkah, tak ada rasa ragu untuk kami melanjutkan langkah. Setelah melewati halte bus, hujan semakin deras. Kulihat di depan mataku barisan muslim hendak melaksanakan sholat Jumat. Adzan berkumandang, rintik-rintik hujan pun menambah syahdu Aksi Bela Islam ini. Kalau aku ditanya, "Anita kenapa kamu ikut demo? Ikut Aksi?". Akan kujawab dengan tegas, "Kalau tidak sekarang, kapan lagi aku akan ikut andil membela agama ini? Untuk Kitab ini?". 


Anita Sari Dalam Aksi Bela Islam 3


Jakarta, 2 Desember 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
 Image Source: Personal Album



Aku melepaskanmu sekarang,
Tak ingin lagi aku menduakan hati ini,
Aku pun tak ingin berkhianat pada jodohku yang aku pun masih bertanya "Siapakah dia?"
Bukan karena aku kecewa,
Bukan karena aku menyerah,
Bukan.

Kuyakinkan hati ini tak terluka,
Untuk sekarang ataupun nanti,
Kuyakinkan aku tak akan bergantung lagi padamu,
Untuk sekarang ataupun nanti,

Kamu, jangan lagi berbuat baik lagi padaku,
Karena itu akan membuatku semakin sulit,

Tuhan terima kasih telah mempertemukanku dengannya,
Tuhan terima kasih telah menjadikannya ujian untuk hatiku,




Jakarta, 29 November 2016
www.anitasarisukardi.com


Image result for graduation
Muhammad Naswir Second Graduation
"Ilmu menjaga ahlinya untuk selalu taqwa dan berhias malu. Jika kagum pada diamnya, dia bicara. Jika kagum pada bicaranya, dia diam. (Adz Dzahabi)"
***

Kulaju si vio (sebutan motor matic merah Vario kesayangan yang sudah 4 tahun lebih menemaniku) secepatnya menuju JCC Senayan setelah aku menyelesaikan kebersamaanku dengan adik-adik binaan di SMK Said Naum. Aku pun tak begitu peduli begitu teriknya mentari pagi ini karena hari ini adalah hari yang begitu istimewa untukku. Karena hari ini abang secara resmi mendapatkan gelar sarjananya.

Kudapati ribuan senyum mengembang di penjuru ruangan wisuda, bahkan satu-dua orang tak segan meneteskan air mata. Termasuk seorang ibu keturunan tionghoa yang kini menceritakan betapa bahagia dan bangganya beliau. Adalah anak keduanya yang sedang diwisuda.

Pikiranku pun melayang mengingat betapa besarnya pengorbanan abangku yang satu ini. Yah aku sendirilah yang menyaksikan perjuangannya. Aku ingat betul beberapa tahun ke belakang, ia pergi ke Bali mengikuti program dan aku menggantikan kuliahnya. Mengingat hal itu, aku malu sejujurnya. Karena nilai tugas yang sempat aku kerjakan tak mendapatkan hasil maksimal. Maafkan aku bang. Beberapa hal lain yang aku tahu abang harus berjuang dari Bandung-Jakarta sekedar untuk menempuh ujian. Beberapa kali abang drop karena selain kuliah ia juga menyantri di Bandung.

Kini kulihat dia begitu gagah dan tampan mengenakan baju wisuda, lengkap berdampingan dengan ayah, mama serta beberapa adiknya (salah satu adiknya tidak hadir karena sedang belajar di Pesantren Gontor). Tanpa sadar senyumku pun mengembang, ingin rasanya air mata ini pun luruh, namun kutahan. Bunga dan hadiah kecil kuserahkan kepadanya secara langsung. Doa-doa pun mengudara, syukur tak terkira aku panjatkan kepada Allah yang begitu baiknya menjaga kami. Terima kasih ya Allah untuk hari ini. Terima kasih Ya Allah untuk waktu yang masih diberikan. Aku paham betul selanjutnya akan ada ujian yang lebih kuat lagi. Maka Ya Allah Ya Rabb mampukan kami semua untuk melalui ujian-Mu ini.

Aku pun berharap, 2018 Aku pun akan menyemat gelar itu. Meskipun aku tak seberuntung abang dengan lengkapnya orang tua, aku akan tetap bahagia. Karena aku yakin "Bahagia tak melulu soal kebersamaan, tapi bahagia adalah doa-doa yang mengangkasa yang membuat Allah meridhai semua yang kami usahakan". 

Jakarta, 26 November 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
In Memories: Muhammad Naswir, S.Kom
Image Source: Personal Album

Muhammad


Pagi itu Rasulullah dengan suara terbata-bata berkhutbah. "Wahai umatku. Kita semua dalam kekuasaan Allah dan Cinta kasih-Nya. Maka taat dan bertakwalah kepadaNya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Quran dan Sunnahku. Siapa yang mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintai aku akan masuk surga bersama-sama aku.’”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang. Ali menundukkan kepala. Isyarat telah datang. Saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati sahabat. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya. Tanda-tanda itu semakin kuat. Ali dengan cekatan memeluk Rasulullah yang lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Di dalamnya, Rasul terbaring lemah dengan kening berkeringat membasahi pelepah kurma alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar ucapan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Fatimah tidak mengizinkannya masuk. “Maafkan, ayahku sedang demam,” katanya. Ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya: “Siapakah itu wahai anakku?”, “Tak tahulah ayahku, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Rasulullah menatap putrinya dengan pandangan menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah putrinya hendak dikenangnya. “Ketahuilah. Dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut!” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Ketika Malaikat maut datang mendekat, Rasul menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. 

Kemudian dipanggilah Jibril yang sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?!” tanya Rasulullah dengan suara amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka. Para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Ternyata itu tidak membuat Rasul lega. Matanya masih penuh gambaran kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir Ya Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat. Saatnya Izrail melakukan tugasnya. 

Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” Rasulullah mengaduh lirih. Fatimah terpejam. Ali yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Kemudian terdengar Rasul memekik karena sakit yang tidak tertahankan. “Ya Allah!! Dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

“Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya: Uushikum bis Shalati, wa maa malakat aymanukum. Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antara kamu.”
“Di luar pintu, tangis pun mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii….. Ummatii……. Ummatii….”

“Berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.”
“Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Betapa sayangnya beliau kepada pengikutnya yang belum pernah dilihatnya sekalipun,” tutur Ibu.


Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com


Original Writer: Ketua Stikosa-AWS (Staf Ahli Majalah Al Falah)
Image Source: Unknown



Dari Adu Dzar Al Ghifari ra., ia berkata: "Kekasihku (Rasulullah) saw berwasiat kepadaku tentang 7 hal antara lain sebagai berikut:
  1. Supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka.
  2. Beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat orang yang berada di atasku.
  3. Beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berkata kasar kepadaku.
  4. Aku dianjurkan untuk memperbanyak ucapanlaa haulaa walaa quwwata illaa billaah (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah).
  5. Aku diperintahkan mengatakan kebenaran meskipun itu pahit.
  6. Beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah.
  7. Dan beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia.
Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Unknown