"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)


Tak ada satu pun orang di dunia ini yang tidak menginginkan seorang anak yang menghafal quran.
#SerialBaca
Maraknya fenomena penghafal quran dekade ini begitu menelisik hati saya untuk bercita-cita memiliki anak-anak penghafal quran. Jujur dari diri saya sendiri sebenarnya bukan karena penghafal quran lagi ngehits, atau iming-iming imbalan akhirat yang akan didapat (meskipun berharap juga). Alasan utama saya adalah agar anak-anak dan keturunan saya kelak di akhirat tidak akan pernah menyesal sudah berjuang di dunia ini, menjadi manusia yang bermanfaat, menjadi bagian dari kebangkitan Islam tentunya.

Saya sadar betul akan kekurangan saya. Karena itulah, insyaallah saya akan melakukan yang terbaik untuk kehidupan saya sendiri.

Nah dari beberapa penelusuran informasi, belajar dari orang tua-orang tua kece ternyata jika memang serius ingin anaknya menjadi apa, kitanya sendiri juga harus serius. Berikut ini adalah mempersiapkan anak menjadi penghafal quran versi Ustad La Ode Abu Hanafi aka Ayah Musa (Hafidz Cilik). Musa mampu menghafal quran di usianya yang relatif kecil. 5,5 ~ 6,5 tahun.
  1. Mencarikan ibu yang sholeh
    • Sudah menikah  = seorang istri harus senantiasa memperbagus atau mempersoleh dirinya sendiri.
    • Belum menikah = menyiapkan dan memantaskan diri.
  2. Daily activity at home
    • Yang dibaca      = quran, cerita-cerita orang sholeh, kisah-kisah sejarah atau tafsir quran. Yang jelas apa yang dibaca anak, adalah hal-hal yang bermanfaat, yang membuatnya cerdas dan yang Allah meridhainya.
    • Yang didengar  = quran
    • Yang dilihat     = hal-hal yang baik, yang tidak memperlihatkan aurat, dan yang berfaedah.
  3. Protect terhadap teman main anak
  4. "Kesolehan anak tergantung pada lingkungan (teman mainnya)", merupakan kutipan yang saya peroleh dari ayah Musa. Menurut saya sendiri hal ini memang betul, karena dari pengamatan saya anak-anak akan bertingkah dan berfikir seperti teman-temannya. Lantas apakah kita akan melarang anak-anak kita untuk berteman saking takutnya sang anak akan berakhlak yang kurang baik? T I D A K. Justru hal ini yang akan menjadi tantangan untuk kita, bagaimana kita mampu mengatur, membatasi dan memilihkan teman bermain untuk anak-anak kita.

Pola Keseharian Yang Diterapkan
  1. Jam 02.30 pagi sudah bangun kemudian wudhu dan langsung muroja’ah di depan Abinya sampai jam 04.00 pagi.
  2. Kemudian menambah hafalan barunya dan menyetorkannya sampai Adzan Subuh berkumandang. Kemudian di stop untuk sholat.
  3. Selesai sholat langsung tambah hafalan dan stok sampai jam 07.30 pagi, kemudian istirahat (sarapan, minum dan main) sampai jam 8.30.
  4. Kemudian muroja’ah sampai jam 10.00 atau 10.30 memperhatikan maju mundurnya waktu sholat.
  5. Jam 10.00 atau 10.30 wajib tidur sampai Adzan Dzuhur berkumandang, kemudian ke masjid.
  6. Setelah sholat, tambah hafalan baru dan stok sampai jam 13.30 siang, kemudian istirahat dan makan siang sampai jam 14.00 siang. Kemudian muroja’ah sampai Ashar.
  7. Setelah Ashar, tambah hafalan baru dan muroja’ah sampai jam 17.00 sore.
  8. Kemudian main sebentar dan umumnya menyiapkan untuk pergi ke mesjid sholat Maghrib.
  9. Setelah Maghrib muroja’ah sampai Isya’ dan makan malamnya setelah sholat Isya’, terkadang muroja’ah sampai mendekati waktu Isya dan langsung makan malam, (baru sholat Isya’-red).
  10. Setelah sholat Isya’ harus tidur.
  11. Tiap 4 atau 5 hari dia libur. Pada hari libur tersebut, Musa full bermain.

Boyolali (Solo), 22 Juni 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: islamicity.org



Tak ada yang lebih berharga selain Islam di hati saat ini. Dulu sebelum datangnya pemahaman, pernah aku malu dengan agama ini. Malu untuk menutup aurat, malu untuk tidak berjabat tangan selain dengan mahram, malu memakai baju yang gombrong-gombrong, dan masih banyak hal lainnya.

Begitu beruntungnya aku karena Allah telah memberikan hidayah yang tak pernah terputus dari kehidupanku, pemahaman dari setiap apa yang aku pelajari dan orang-orang salih yang berada di sekitarku. Alhamdulillah.

Jika kalian bertanya padaku apakah aku bangga menjadi muslim saat ini. Akan aku jawab IYA dan aku mencintai Agama ini. Bahkan aku tak mempunyai alasan untuk Tidak Bangga Menjadi Muslim, menjadi bagian dari Agama ini. Karena agama ini begitu sempurna yang tak ada celah sedikitpun menurutku.

Hanya saja mungkin berbeda pendapat dengan orang lain. Aku paham jika orang lain akan berpendapat berbeda tentang Agama ini. Mungkin jika ada yang masih merasakan hampa menjadi seorang muslim maka perlu kembali mengingat dan menelaah terjemah ayat berikut ini:
Dan janganlah mengikuti apapun yang kamu tidak memiliki ilmu (pengetahuan) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban. (QS. Al Isra : 36) 

Pada ayat itu kita diharuskan untuk belajar dan memahami segala hal terlebih dahulu sebelum bertindak, sebelum menentukan sikap. Bukankah cinta itu timbul dari suatu pemahaman? Maka selamat menemukan puzzle-puzzle kehidupan ini teman-teman. Selamat menyelami keindahan menjadi Muslim.

Jakarta, 14 Juni 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Unknown



Gerakan Koin Adara

"Apa sih pentingnya Palestina? Apa hubungannya palestina dengan Indonesia? Kenapa sih kita harus membantu Palestina? Bukankah urusan dalam negeri saja masih sulit?"

Itu adalah berderet pertanyaan yang muncul dari kebanyakan orang. Coba deh temen-temen play video di bawah ini. Nah sudah terjawab kan? Kalau belum silakan memberikan komentar di posting ini saja ya.



Oke lanjut. Tanpa bertele-tele di sini saya ingin mengajak teman-teman yang merasa terganggu dengan uang recehan, merasa uang receh tidak begitu penting, dan merasa uangnya sudah terlalu banyak di kantong yuk bersama-sama dengan ikhlas menyimpan uang recehan tersebut untuk ikut andil gerakan #KOINADARA.

Apasih #KOINADARA?
So Koin Adara adalah kegiatan sosial dengan mendonasikan uang recehan yang kita punya untuk Palestina (berapapun nominalnya). Sampai kapan program ini dadakan? Selamanya sampai Palestina di tangan Umat Muslim. Jika donasi tidak berbentuk uang receh apakah bisa? Bisa, silahkan ditransfer melalui nomor rekening Koin Adara.

Nah, kemudian jika ada yang bertanya bagaimana prosedur bergabung menjadi anggota gerakan adara berikut adalah penjelasannya.

  1. Silahkan mendaftarkan diri kepada Ibu Vienna ke nomor 0813 1027 1758 (Phone / Whatsapp).
  2. Setelah terdaftar, maka anda akan dimasukkan ke dalam group whatsapp Gerakan Koin Adara.
  3. Setiap anggota mengumpulkan uang recehan atau kertas. Jika ingin membeli kencleng adara silahkan order melalui ibu Vienna.
  4. Menyerahkan hasil pengumpulan uang recehan atau kertas secara rutin (tiap 1  bulan, 2 bulan atau 3 bulan) ke Kantor Adara atau melalui transfer rekening atau menghubungi penyetor (team Adara) untuk penjemputan uang koin.
  5. Pastikan anda telah mendapatkan tanda terima dari Adara.
  6. Melakukan konfirmasi penyetoran uang ke ibu Anita di nomor 0856 898 0008.
Prosedur Gerakan Koin Adara

Jakarta, 04 Mei 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image & Video Source: Adara 



Ramadhan 2017

Hey guys, sedang hunting pahala di bulan Ramadhan? Ikutan kegiatan yang diadakan oleh Adara yuk! Adara punya beberapa program nih. Antara lain sebagai berikut:

1. Kegiatan Berbuka Puasa di Masjid Al-Aqsha untuk 1000 orang dengan biaya Rp 100.000,00 (seratus ribu) per orang.

2. Program Berbagi Kiswatul  Ied (bingkisan lebaran) untuk 200 anak di kota Al-Quds dengan biaya Rp 500.000,00 (lima ratus ribu) per anak.

3. Infak
Partisipasi Ditunggu hingga tanggal 21 Mei pukul 12.00 WIB ke rekening Adara Relief International.

Partisipasi ditunggu hingga tanggal 21 Mei 2017 Pukul 12.00 WIB melalui rekening Adara Relief Internasional

Bank Muamalat an Adara Relief Internasional | 3090002717
Bank Mandiri an Adara Relief Internasional | 070.000.5658799



Informasi Lebih Lanjut Hubungi :
Rahma | 081252039110

Peluncuran Gerakan Koin Adara

Adara Relief International, sebuah lembaga sosial yang peduli pada anak dan perempuan Palestina meluncurkan gerakan Koin Untuk Senyum Palestina di Jakarta (4/5/2017). Acara yang dihadiri oleh sejumlah pimpinan majelis taklim, ormas dan komunitas perempuan ini bertujuan untuk menjaring lebih banyak lagi masyarakat yang peduli pada urusan  bangsa Palestina. 

"Kami ingin membangun kesadaran masyarakat luas, khususnya kaum muslim, bahwa koin yang selama ini diidentikkan dengan recehan bisa bermakna juga buat saudara-saudara kita di Palestina. Untuk menyumbang tidak harus mesti punya uang banyak tapi dari kalangan manapun bisa menyumbang," jelas Ketua Adara Relief International, Nurjanah Hulwani, S.Ag, M.E.  

Dalam paparannya, Nurjanah menyampaikan bahwa urusan Palestina adalah juga urusan umat Islam. "Semoga gerakan koin ini bukan hanya sekedar mengajak pribadi atau komunitas untuk berdonasi secara masif dengan recehan tetapi para donatur ini juga bisa menjadi media untuk menyebarluaskan penderitaan dan perjuangan bangsa Palestina ke jaringannya masing-masing," tambah Nurjanah.

Dalam acara peluncuran Gerakan Koin untuk Senyum Palestina juga disosialisasikan sejumlah program bantuan, seperti program bantuan pendidikan, kesehatan dan keselamatan bagi anak-anak Palestina. "Untuk program bantuan pendidikan misalnya, dari 1000 anak Palestina usia sekolah, kami mencoba memfasilitasi sebagian anak untuk mendapat bantuan pendidikan dengan kebutuhan Rp 8 juta/anak/tahun," jelas Nurjanah.

Adara Relief International akan terus berjuang untuk mengajak umat Islam khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk membantu perjuangan bangsa Palestina untuk merebut kembali hak-hak mereka yang dirampas penjajah zionis Israel dan upaya mereka menjaga masjid Al-Aqsha.  

"Semoga Gerakan Koin untuk Senyum Palestina ini mendapat respon dari masyarakat Indonesia dan mereka yang bergabung dalam gerakan ini selalu mendapatkan keberkahan sebagaimana tagline program 'Bersama Koin Kita Raih Keberkahan'," harap Nurjanah dalam kalimat pemungkas. (Humas Adara)



Jakarta, Mei 2017 | ©www.adararelief.com
Image Souce: Personal Album

Ikhlas

Ikhlas adalah wujud sebuah Keyakinan Mutlak, pada Sang Maha Mutlak.
Ikhlas adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah.
Ikhlas itu adalah ketika engkau sanggup berlari melawan dan mengejar,
namun engkau memilih patuh dan tunduk.
Ikhlas adalah sebuah kekuatan menundukkan diri sendiri, dan semua yang engkau cintai.
Ikhlas adalah memilih jalan-Nya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain.
Ikhlas bukan lari dari kenyataan. Ikhlas bukan karena terpaksa.
Ikhlas bukan merasionalisasi tindakan, bukan mengkalkulasi hasil akhir
Ikhlas tak pernah berhitung,tak pernah pula menepuk dada.
Ikhlas itu Tangga menuju-Nya.
Mendengar Perintah-Nya.

www.anitasarisukardi.com
[image source: Original captured by Anita Sari Sukardi]

Alasan Perantau

Merantaulah. Karena ilmu itu seluas alam semesta, setinggi langit ke tujuh. Dan tak akan kita dapati sesuatu jika kita hanya berdiam dalam sangkar. - @nithairas

Ada banyak alasan seseorang memutuskan merantau. Secara garis besar kita akan menjumpai dua alasan besar seseorang merantau, yaitu untuk Pendidikan atau Pekerjaan yang lebih baik dan lebih menjanjikan untuk masa depan.

Lambat menaun seorang yang merantau karena pendidikan pastinya akan selesai pendidikannya. Kemudian orang yang merantau karena pekerjaan lambat menaun akan memiliki tabungan yang cukup untuk diri sendiri & keluarga. Lantas akankah sampai di situ? Tentu saja tidak. Apakah segera memutuskan kembali ke kampung halaman? Hal ini merupakan pertanyaan yang pelik untuk anak rantau memang. Beberapa dari kami memang ada yang memutuskan langsung kembali ke kampung halaman dengan alasan antara lain permintaan kedua orang tua untuk segera pulang, perubahan status (aka. Pernikahan), dan kecukupan finansial yang bisa membuat kami survive di kampung halaman.

Di sisi lain, bagi kami yang sulit untuk memutuskan segera pulang ke kampung halaman bukan karena kami tak ingin kembali atau kami tak ingin memajukan daerah asal kami. Namun karena pertimbangan-pertimbangan pelik yang bersarang di kepala kami. Kondisi kesiapan pribadi, baik dari segi penerimaan kekecewaan masa lalu yang terjadi di kampung halaman, kemudian finansial (termasuk jabatan) maupun behavior yang sudah tercipta di tempat rantau menjadi tolak ukur yang kemudian berlanjur ke sosial zone. Misalnya hal yang bisa dibawa untuk daerah asal, hal yang bisa dilakukan untuk daerah asal kedepannya. Kedua point ini memang tidak mudah, bahkan sangat sulit buat saya sendiri.

Sayangnya karena alasan-alasan yang tidak bisa dijabarkan ini, banyak orang yang hanya memandang sebelah mata. Misalnya munafik, durhaka dengan kampung halaman, sudah menemukan dunia baru, or else yang masih panjang dan njlimet. Padahal kita sebagai makhluk Allah paling sempurna dan yang berakal seharusnya kita lebih paham. "Di mana pun bumi dipijak, disitulah saya bermanfaat" - @nithairas

Ketika kita berfikir lebih luas seperti kutipan yang baru saya sebutkan, maka apa yang kita takut dan risaukan lambat laun akan menjadi oksigen yang memberi kita ruang untuk lebih bermakna.

Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com


Image Source: Personal Album

Uwais
Belum dikatakan berbuat baik kepada Islam, orang yang belum berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Dialah Uwais seorang pemuda yang tinggal di Yaman, sebuah negara di Jazirah Arab di Asia Barat Daya, bagian dari Timur Tengah. Uwais adalah pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya.

Suatu ketika ibu uwais berkata, "Anakku bawalah aku untuk melaksanakan haji, usiaku kini sudah sangat mendekati ajal." Uwais saat itu hanya diam dan tak mampu berkata sepatah katapun. Uwais termenung. Perjalanan menuju Mekah sangatlah jauh, sedangkan ia sendiri bukanlah orang yang kaya. "Bagaimana aku harus membawa ibu ke Mekah?", ujarnya dalam hati.

"Hei Uwais, anak sapi yang kau gendong itu tak akan pernah bisa menggendongmu kembali dari desa ini ke bukit itu. Kamu sudah gila Uwais." Begitulah cemooh dari penduduk desa yang keheranan dengan sikap Uwais ini. Penduduk desa tidak mengerti kenapa setiap hari Uwais menggendong anak sapi itu naik-turun bukit.

Delapan bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Dengan badan yang badan kekar, kini Uwais telah siap untuk menggendong Ibunya menuju ke kota Mekah untuk melaksanakan haji. Penduduk desa pun akhirnya mengerti alasan utama Uwais menggendong anak sapi yang berubah menjadi sapi dewasa naik-turun bukit. Yakni agar ia kuat membawa ibunya ke Mekah untuk melaksanakan haji.

Setelah melakukan tawaf, Uwais berdoa memohon ampun untuk ibunya. "Ya Allah, ampunkanlah ibuku. Ampunkanlah Ibuku." Sang ibu yang berada di sampingnya pun menangis sejadi-jadinya seraya berkata, "Bagaimana dengan dosamu Uwais, memohon ampunlah kepada Allah atas dosamu. Jangan kau memohonkan ampun untukku terus." Kemudian Uwais pun berkata "Tidak ibu. Aku akan tetap memohonkan ampun untukmu ibu. Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

***

Adakah di dunia ini masih tersisa cinta kasih seorang anak seperti cintanya Uwais kepada Ibunya? Semoga kita bisa meneladani sikap Uwais ini. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan suatu kebaikan, termasuk kebaikan kepada orang tua. Mungkin sangat terlambat bagi kita, namun terlambat lebih baik dibandingkan tidak sama sekali.

Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com


Image Source: Unknown

Anita Sari Sukardi Mom's (Supini)

Tak akan pernah cukup buih di lautan menggantikan cinta yang beliau berikan kepada kita. Cinta tanpa syarat!

Tak akan pernah ada yang menggantikan wanita asli keturunan jawa, berparas mempesona dan tidak semampai ini. Yah dia adalah mamahku. Aku tak bergeming jika orang lain selalu membandingkan beliau dengan wanita lain yang jauuuh berbeda. Bagiku mamah tetap wanita tercantik untukku meskipun aku akui beliau memiliki banyak kekurangan sebagai seorang manusia.

Bohong rasanya kalau aku dulu tak malu ketika ditanya "Ibunya bekerja sebagai apa?", namun kini anggapan itu sudah tak pernah ada lagi dalam benakku. Yah karena aku sekarang paham betul begitu beratnya status "Ibu rumah tangga".

Mamahku memang tak menempuh pendidikan, pernah suatu ketika mamah bercerita "Dulu mbahmu itu, ndak suka melihat mama sekolah. Yen wis wayahe sekolah, mesti dikon ning kebon. Wis ning kebon ae, sesuk esoh mangan. Sekolah dienggo opo, sing penting mangan!" Aku paham betul begitu beliau menyesali hal tersebut. Tak bisa belajar, hanya manut dan manut. Mamahku menikah muda saat itu, dengan seorang lelaki yang berani datang meminta kepada kakekku hanya karena tertarik pada pandangan pertama ke mamah. Yah, dia abahku yang kini menjadi mantan suami dari mamahku.

Beberapa bagian kisahnya ada andilnya diriku. Seperti saat saat itu aku yang baru bisa merangkak, mamahku diuji dengan kehilangan anak ke duanya. Di saat suaminya sibuk bekerja, beliau harus kuat memikul beban kehilangan itu. Beliau menahan tangisnya ketika aku bertanya, "Mama mbak kemana?". Mamah selalu mengerjakan keperluan rumah tangga dan pekerja meubel abah sendiri tanpa campur tangan orang lain. Lelahnya mengurus dua orang putri pasti tak mudah, apalagi aku. Aku anak terbandel sejagad raya mungkin menurut mamahku. Aku tipikal manja yang ketika meminta "sesuatu" harus aku didapatkan. Mengamuk di pasar, nangis sejadi-jadinya dan tak mau beranjak dari toko adalah senjataku waktu itu. Suatu ketika mamahku memiliki pembantu, sayangnya pembantu itu tak berperangai baik. Dan alhasil membuat mamahku trauma. Di episode lain, ketika rumah tangga mamah diuji dengan hadirnya orang ketika pertama kali. Kekerasan rumah tangga yang sering kita saksikan di sinetron-sinetron itu bukan hanya angan-angan semata. Nyatanya mamahku melewati itu semua. Mamahku memelukku erat di saat terberat itu, aku yang tak paham apa-apa kala itu cuma diam dan menepis air matanya saja. Episode-episode selanjutnya terus berlanjut pada kisah yang sudah tak mampu lagi diselamatkan. Di tahun 2013, pengkhianatan ke sekian kalinya. Akhirnya mamahku memutuskan berpisah.

Kini usiaku seperempat abad lewat ini, aku menangisi begitu aku belum mampu membuat mamahku bangga. Di detik ini pula, tak ada secuil kata untuk mampu membandingkan diri dengan mamah. Aku selalu berfikir, apa aku bisa menjadi seorang ibu sekuat mamah? Apa aku sanggup menjadi seorang istri yang merawat dan membesarkan anak seperti aku dan mba? Ah Tuhan, hanya pada-Mu aku memohon. Memohon segala yang terbaik, memohon untuk engkau mampukan aku menjadi penyejuk bagi Mamahku, mampukan aku untuk membuatnya bangga, membuatnya tersenyum.

Janjiku, akulah yang akan merawatmu di usia rentamu nanti. Akan aku gendong mamah kalau mamah tak sanggup lagi berjalan. Memandikan mamah, seperti aku waktu kecil. Mengganti suapan makanan yang sampai saat ini masih aku meminta padamu. Memakaikan baju, menggantikan popok, semuanya, segalanya.

Ya Allah, ijinkan aku menemani mamah untuk berhaji yang dijadwalkan 2021. Aku tak ingin beliau sendiri menunaikan perintahmu.

Ya Allah, ijinkan hamba untuk berbuat bakti kepada mamah. Ijinkan anak-anak, cucu, dan generasi penerusku mampu mengenalnya dengan baik, belajar yang terbaik dari beliau. Amin.

Jika tak ada seorang pun yang mengenal mamahku, ijinkan aku mengenang beliau dengan coretan kecil ini. Mamahku, Supini.

Jakarta,  Juni 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album


Dan apa yang sanggup kita tinggalkan untuk anak kita?
#SerialBaca
Menjadi orang tua memang tantangan hidup tersendiri. Tak mudah, namun tak sulit pula. Banyak hal yang perlu dipersiapkan demi anak. Orang tua harus mampu mendidik anak agar nantinya sang anak menjadi pribadi yang mandiri. Hal tersebut harus dipupuk sejak dini sehingga ketika anak sudah baligh, sang anak sudah siap.

Berikut adalah persiapan-persiapan tersebut:
  1. Ketika anda akan sholat, ajaklah anak berjamaah, agar dia menjadi anak ahli ibadah.
  2. Ketika anda akan berinfak, maka suruhlah dia yg memberikan pada orang lain, agar jiwa kepedulianya berkembang sempurna.
  3. Bila anda sedang berjalan bersama, maka kisahkan perjalanan hidup anda yang terkesan agar dia bertambah hikmahnya.
  4. Bila anda akan tidur, maka kisahkan sebentar kepadanya tentang orang sholeh agar berkah ilmunya.
  5. Bila anda sedang sakit, maka pesankan supaya dia mau menjadi anak sholeh yang selalu mendoakan anda, agar terkesan hidupnya.
  6. Bila anda pulang mengaji, maka sampaikan kesimpulan ringkas tentang hasilnya, agar ilmumu masuk sebelum orang lain mengajarkan kepadanya.
  7. Bila anda akan pergi, maka ucapkan kata perpisahan "Nak, aku cinta kamu karena Allah", agar selalu bahagia hatinya.
  8. Bila anda sedang bersedih, maka mintalah dia berdoa dengan bahasa yang mudah dipahami, sedangkan anda mengamininya, agar jiwanya teringat Allah.
Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Unknown


Rekening Peduli Palestine dan Aleppo
Jangan biarkan matamu terlena tentang apa yang tak diperlihatkan dunia. Nyatanya, saudara kita merenggut nyawa dari dulu hingga sekarang.

Berikut adalah nomor Rekening Peduli Palestine dan Aleppo

Adara Relief International
Bank Mandiri a.n Adara Relief International | 0700005658799
Bank Muamalat a.n a.n Adara Relief International | 3090002717
Konfirmasi Donasi : 0815 9116 647 (Indah)

Closing Arisan Jakarta Poenya Periode 1

Pada akhirnya kita menyerah pada waktu. Tahun lalu arisan jakarta ini dibentuk dengan tujuan untuk merutinkan acara kongkow bareng para anak-anak main alumni Politeknik Telkom Bandung yang sekarang singgah di Jakarta. Personil arisan ini terdiri 17 orang yang notabene hanya 1 peserta yang berstatus "Bapak", seorang yang berstatus "Istri" dan sisanya adalah "Single Bahagia".

Semoga jalinan persahabatan ini kekal hingga ke Surga-Nya kelak. Kami masing-masing masih punya cacat sana-sini, tapi dengan kekurangan itulah kami belajar Saling Memahami. Tidak Menuntut. Saling Mengerti. Dan Apa adanya.

Closing Arisan Jakarta Poenya Periode 1 Gaya Hesemeleh



Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
 Image Source: Personal Album