"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)

SIM Baru Indonesia


SIM gue sebulan lagi masa berlakunya habis. Karena gue takut kelupaan akhirnya gue perpanjang aja. Perpanjang SIM sebulan sebelum masanya. Awalnya gue bingung karena KTP dan SIM lama gue bukan alamat domisili yang sekarang, selain itu sekarang kan masih Korona. Gue sekarang tinggal di Bandung dan KTP gue Solo, sedangkan SIM lama gue Boyolali.

Setelah gue cari-cari informasi di dunia maya. Akhirnya gue ada harapan untuk memperpanjang SIM Luar Kota Di Bandung. Gue pilih lokasi perpanjang SIM di Gerai Utama Perpanjang SIM Online Bandung (Festival Citylink).
Gue berangkat pagi-pagi ke Festival Citylink dengan bawa bayi tentunya. Maklum bayi gue sepaket sama gue kalau kemana-mana. Gue agak cemas si kalau bakal diusir petugas karena bawa bayi tanpa bawa pendamping lain.

Sesampainya di sana emang sih muter-muter kaya gangsing. Gue harus ke lantai 2 melalui bagian paling belakang mall. Habis itu gue harus ke parkiran buat antri dengan menaruh SIM. Nah saat itu gue ditawarin tuh sama bapak-bapak buat diproses lebih cepet (calo dalam sepertinya). Cuma waktu itu gue bilang mau nyobain perpanjang sendiri dulu. Sambil nunggu antrian dipanggil buat antri lagi di depan loket untuk tes kesehatan. Sembari nunggu gue cerita tuh tentang calo sama suami, dan alhamdulillah suami bilang ga usah.



Lumayan agak bosan nunggu panggilannya. Gue hampir-hampir nyerah. Terus untungnya setelah rasa menyerah itu dipanggillah nama gue. Naik kemudian antri lagi di depan gerai. Anak gue udah mulai bosen, jadilah gue putuskan untuk ajak jalan-jalan di sekitaran. Apesnya toko-toko pada belum buka (Iyalah orang masih pagi).



Setelah beberapa lama, akhirnya gue dapat panggilan tes kesehatan. Alhamdulillah lancar. Meski anak gue teriak-teriak. Tes kesehatannya meliputi tes tekanan darah (tensi), tes mata, timbangan, dan tinggi badan. Setelah rangkaian tes kita harus membayar biaya tes sebesar Rp. 50.000,00. Dari tes kesehatan kita akan diberi satu bendel kertas dan SIM lama kita.

Bendelan berkas itu harus kita serahkan ke loket 2 yang kemudian kita menunggu antrian lagi untuk verifikasi dan pengisian form biru. Karena gue bawa bayi tanpa pendamping, petugas loket membantu gue. Gue cukup memberikan tanda tangan dan menjawab pertanyaan aja. Setelah berkas selesai kita akan dipanggil lagi untuk pembayaran sebesar Rp. 135.000,00 (SIM C) dan kita disuruh untuk menyerahkan formulir ke loket 5 untuk antri foto dan tanda tangan. Setelah foto dan tanda tangan kita harus menunggu lagi untuk panggilan hasil cetak SIM. Ketika cetak SIM kita akan ditanyai mau diberi laminasi biar awet atau tidak. Jika iya maka kita perlu membayar Rp.10.000,00.

Dan setelah hasil cetaknya jadi proses perpanjang SIM selesai. Nah SIM di Indonesia sekarang berbeda dengan yang dulu. Gue ga tahu sih kapan berubahnya. Jika dulu berwarna biru sekarang berwarna merah seperti gambar yang paling atas.

Semoga informasi ini membantu temen-temen yaaa. See you on my next stories.
Ah informasi ini membantu, bantu saya dengan subscribe youtube channel saya yah. Klik di SINI untuk linknya. Thank you.

Bandung, 20 November 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album


Assalamu'alaikum wr.wb

Alhamdulillah hari ini Allah perkenankan saya untuk belajar mengenai komunikasi kepada orang lain, khususnya dalam keluarga. Berikut ini merupakan point-point yang dibahas oleh ustadz Aan.

  1. Orang tidak akan mati jikalau jatah umurnya belum habis.
    Dalam hal ini konteksnya sesehat apapun atau sesakit apapun jika waktu kita masih ada atau sudah habis, kita tidak tahu sedetik lagi yang akan terjadi.

  2. Gagaimana komunikasi terbaik dalam kehidupan?
    Komukasi dalam hidup yang baik adalah dengan mencontoh rasulullah. Karena Rasulullah merupakan manusia teladan untuk umat manusia. Begitu pula halnya jika ingin hidup penuh dengan keberkahan, manusia harus meniru rasulullah.

    Berkah berarti bertumbuh dalam kebaikan. Sehingga apabila kita sudah berumah tangga kita harus bertanya kepada diri sendiri. "Sudah berkahkah rumah tangga yang kita bangun ini? Seberapa manfaat yang kita berikan dari rumah tangga kita ini?"

    Lalu seberapa berkah rumah tangga kita? Apa indikator rumah tangga berkah itu? Ciri rumah tangga berkah itu?

    a. Ada kelembutan, Jiwa pemaaf & Musyawarah (Q.S. Al-Imran:159) 
    Jika kelembutan, hati yang memaafkan dan musyawarah sering dilakukan dan masih ada dalam rumah tangga kita, maka komunikasi masih bisa dibilang efektif.

    b. Ada kehangatan & Cinta
    Dalam keluarga harus ada kehangatan yang berorientasi kepada kedekatan antara suami/istri, ataupun antara anak dengan orang tua.

    c. Ada kebersamaan
    Misalnya olahraga bersama, ibadah bersama di antara anggota keluarga, dan kebersamaan dalam mencari ilmu.

    "Barangsiapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya kemudian mereka berdua melaksanakan shalat dua rakaat secara bersama, maka mereka berdua akan dicatat sebagai orang yang selalu mengingat Allah Ta'ala.” (HR. Abu Daud)


  3. Lalu bagaimana berkomunikasi efektif itu?
    Hubungan antara keluarga berkah dengan komunikasi efektif itu berbanding lurus, keluarga berkah itu akan menghasilkan komunikasi yang efektif pula, dan begitu pula sebaliknya.

    Prinsipnya:
    a. Harmoni antara kata & Fakta (Q.S. As-Shaaf : 2-3)
    Senantiasa menyeleraskan kata yang diucapkan dengan kegiatan.

    b. Ucapan yang benar / Qaulan Sadiida (Q.S. An-Nisa:9)
    Ucapan yang benar, biasakanlah berkata dan berkomunikasi dengan ucapan yang benar dan tidak dusta.

    c. Qaulan Baliigha / Ucapan yang berbekas di hati (Q.S.An-Nisa:63) 
    d. Qaulan Ma'ruufan / Ucapan yang baik (Q.S. An-Nisa:5)
    e. Qaulan Layyinan / Ucapan yang lemah lembut (Q.S. Thaha:44)
    f. Qaulan Kariiman / Ucapan yang mulia (Q.S. Al-Isra:23)
    g. Qaulan Masyuura / Perkataan yang mudah & mudah dimengerti.


    Bandung, 1 November 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
    Image Source: Google Picture

 


Program Alirkan Air Kekalkan Kebaikan kita merupakan program yang dibuat untuk pembuatan sumur dan instalasi air minum.

Israel telah menolak akses warga Palestina ke seluruh Sungai Yordan sejak 1967 yang menjadi salah satu sumber air utama. Menurut perkiraan yang berbeda, antara 80% hingga 85% air tanah di Tepi Barat digunakan oleh pemukim Israel. Israel juga telah memasang penjagaan dari banyak sumur dalam di sepanjang perbatasan Gaza, yang dengan cara ini mengekstraksi banyak air tanah sebelum mencapai Gaza.

Seluruh wilayah Palestina saat ini sulit untuk mendapatkan air bersih, termasuk wilayah 48 yang dijajah lebih dari 72 tahun. Bantuan wakaf sumur yang sahabat berikan akan sangat bermanfaat bagi kehidupan penduduk Palestina.

Dengan adanya program ini untuk saudara-saudara kita di Palestina, kita berharap agar warga Palestina tidak kesulitan lagi mendapatkan air bersih.

CARA BERDONASI

  1. Klik “Donate Sekarang” di website adara relief internasional (https://adararelief.com/fundraising/program-wakaf-sumur-di-gaza-palestina/)
  2. Masukkan jumlah donasi lalu klik “Donate Sekarang”.
  3. Isi data diri pada detail donasi.
  4. Pilih cara pembayaran lalu klik “Donasi Sekarang”.
  5. Lakukan konfirmasi donasi melalui WhatsApp ke nomor: 087780464183.
Sahabat Donatur juga bisa langsung melakukan transfer melalui rekening bantuan untuk Palestina a.n Yayasan Adara Relief International berikut ini:

Bank Muamalat 309-000-2717 / 309-000-6360 (Gerakan Koin)
Bank Mandiri 070-000-5658799


 

Beberapa lalu gue mengikuti kajian online bersama Ustadzah Ninih (Istri Aagym). Beliau menjelaskan mengenai kiat bahagia untuk muslimah.

Kurang lebih dari pemaparan beliau persis dengan pandangan gue, bahwa bahagia itu dicipta oleh pribadi (berasal dalam diri).

Kuncinya untuk menjadi muslimah bahagia adalah dengan 5 Jangan.

  1. Jangan terlena dalam kesedihan.
    Sebagai manusia pasti kita tak pernah luput dengan yang namanya kesedihan. Namun kita harus bisa segera bangkit. Ibarat kata "Kita hidup untuk di hari ini dan masa depan, bukan masa lalu."

  2. Jangan merasa ada dengki
    Baik disengaja atau tidak kita harus senantiasa berdoa agar Allah menghindarkan kita dari rasa dengki. Mana kala kita tidak sengaja mendengki/iri kita harus lekas beristighfar dan berdoa semoga Allah mengangkat rasa kedengkian ini.

  3. Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah
    Terkdang memang apa yang kita inginkan tidak sejalan dengan takdir Allah. Namun kita tidak boleh berputus asa. Segala sesuatu yang ditetapkan Allah kepada kita pasti baik adanya.

  4. Jangan lupa bersyukur
    Jangan lupa bersyukur dengan hal kecil yang kita punya ataupun yang kita lakukan. Karena dengan bersyukurlah membuat kita kaya jiwa.

  5. Jangan lupa selalu beribadah.
    Sebagai umat maka kita tidak boleh terlepas dengan ibadah. Lebih bagus mana kala kita menyempurnakan amalan wajib kita dengan amalan-amalan sunnah yang diajarkan rasullullah untuk kita.

Bandung, 16 Oktober 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google Picture



Gue merasa ada sesuatu yang berbeda sejak aahva demam selama dua minggu (tiga bulan yang lalu). Gue merasa tak lagi bertatap muka dengan aahva. Namun, kala kontrol terakhir dokter mengatakan bahwa itu salah satu proses kesembuhan. Gue semakin hari semakin tak tenang, aahva sering kali terjeduk. Aahva pun sering jatuh ketika jalan. Sering marah-marah dan teriak-teriak.


Akhirnya gue memutuskan memeriksakan aahva. Gue periksa ke Prof. Dadang, dari hasil diagnosa beliau aahva menunjukkan gejala autis awal (ADHD). Beliau menyarankan gue untuk membawa aahva ke dokter tumbuh kembang anak. Gue syok. Gue tak pernah terfikir akan hal ini. 


Gue pun akhirnya membawa aahva ke dokter rujukan Prof. Dadang. Hasilnya pun sama, aahva didiagnosa ADHD. Gue terdiam, meski pake sesenggukan.


Gue ingat betul buku-buku yang gue baca, bahwa anak adalah satu ujian. Gue tak boleh terpuruk meski rasanya sesak. Gue menyesal beberapa waktu sebelumnya yang undercontrol, lupa yang namanya UJIAN. Ujian kali ini gue merasa terkena pukulan telak. Gue juga tak paham apa rasanya jadi suami gue. Akankah gue mampu dengan ujian ini? Akankah gue menyesali keadaan berlarut-larut? Ataukah gue beryukur dengan semua ini?


Saat ini aahva masih menjalani terapinya. Perlahan terdapat perubahan, meski untuk kefokusan penglihatan belum terlihat. Gue tahu betul kami harus membawa aahva untuk melakukan serangkaian tes mata dengan level tinggi. Namun apalah kita, kami masih terkendala dengan keuangan. 


Semoga Allah menguatkan kami akan ujian ini. Semoga Aahva bersyukur mempunyai gue sebagai ata dan mas riyan sebagai ayahnya.


Bandung, 19 Juni 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album

Hai hai hai.
Sudah agak telat sepertinya ya.
Sowryyy.
So apa kabar di Tahun baru teman-teman?
Apa resolusi kalian di tahun 2020 ini?
Boleh-lah cerita-cerita sikit.

Untukmu yang sedang merangkai kegiatan 2020. Kalender muslim 2020 ini bisa dijadikan sebagai acuannya loh ya.




Bandung, 29 Maret 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google



Assalamu'alaikum wr.wb
Gaes, kali ini gue pengen sharing tentang amalan yang membuat kita tenang. Apa saja amalan tersebut, yuk kita bahas!

Sebelum masuk ke point dari amalan-amalan tersebut, diawal pembahasan ustad Adi Hidayat mengemukakan potensi besar yang ada pada wanita namun tidak ada pada orang lain.
Potensi tersebut antara lain:
  1. Rahim
  2. Melahirkan
  3. Menyusui
Nah masing-masing potensi tersebut benar adanya memang seperti sebuah keajaiban dan keistimewaan dari Tuhan kepada hambanya. Hanya wanita yang mempunyai rahim, namun tidak semua wanita berahim sehat, maka betapa beruntungnya wanita yang mempunyai rahim sehat dan kuat. Begitu pula dengan keadaan melahirkan dan menyusui, semuanya spesial. Bahkan ketika melahirkan juga, seorang wanita berjuang antara hidup dan mati.

Nah selanjutnya, kita akan berbicara soal ketenangan. Ketenangan merupakan jaminan pertama ketika manusia diturunkan ke bumi. Seorang manusia akan tenang manakala ia mengingat Tuhannya. Maka bagaimanakah menghadirkan ketenangan itu? Yaitu dengan hal-hal sebagai berikut;
  1. Sholat
  2. Doa
  3. Membaca Al Quran
  4. Menghafal Al Quran
  5. Menyebut kalimat-kalimat thoyibah 


Bandung, 26th February 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album





Banyak orang yang pura-pura sayang sama diri sendiri, tapi nyatanya tak mengenal dirinya sendiri. Ikut kanan-kiri yang pada akhirnya membuatnya bingung. So i wanna share to you how to self care.

  1. If it feels wrong, then don't do it.
    Yah istilah kecenya sih ikutin naluri ajah. Percaya atau engga dalam satu idividu itu seperti ada individu di dalam individu. Bener ga? Gimana ya jelasinnya. Hmmm like kita mikir tapi ada pikiran lain gitu. 
  2. Say "exactly" what you mean.
    Ndak udah bertele-tele. Nah kalau kita memang tipikal orang yang susah to the point, coba deh belajar dikit demi sedikit. Emang sulit, tapi pasti bisa kok.
  3. Don't be a people pleaser.
    Kita tidak bisa membuat semua orang suka sama kita, karena toh pasti ada yang benci atau julid. Please enjoy ajah.
  4. Trust your instincts.
  5. Never speak badly about yourself.
  6. Never give up on your dreams.
  7. Don't be afraid to say "no".
  8. Don't be afraid to say "yes".
  9. Resist the need to always have control.
  10. Stay away from drama and negativity.

Bandung, 4th February 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album




Such a long time no update this blog. Kaget juga nih gue waktu buka blog. Ternyata dia update platform. Nice. Hahaha. Well I'm sorry. Being a mommy at home it's not a game. Waktu gue banyak tersita buat anak dan kegiatan rumah. So di moment new year ini, gue mau mulai lagi nih aktif nulis.

Nulis apa ajah. Pengalaman ataupun pandangan gue terhadap sesuatu or beberapa ilmu yang baru gue dapat seperti sebelum-sebelumnya.

Bismillah.
Bandung, 9 Januari 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album


Duh lama nih tak bersua. Jadi malu.
Maklum nulis jadi kegiatan yang lumayan sulit.

So kali ini gue mau ajak temen-temen buat bikin banana bread ala starbuck yang murce dan simpel tentunya. Bahan-bahannya pake bahan yang sering terlihat di dapur. Kalau tidak ada ya beli deh. Hehehe.

Untuk detailnya kalian bisa nonton di video ini yah. Jangan lupa like dan subscribe. Thank you before.
Cusss


Hidup itu lucu, ya...
Yang dicari, hilang..
Yang dikejar, lari...
Yang ditunggu, pergi...

Sampai hari kita lelah dan berserah.
Saat itu semesta bekerja.

***
Mei 2018,
Sudah ramadhan.
Pagi itu seperti tak biasa karena beberapa hari sebelumnya badan gue terasa sangat tidak nyaman. Akhirnya setelah beberapa hari sebelumnya membeli test pack, dengan rasa deg-degan antara siap dan tidak siap kepake juga test pack itu.

Semenit,
Dua menit,
Beberapa menit selanjutnya.

Dan eng ing eng,
Engga merah banget sih. Tapi dua garis. Karena gue bingung lalu gue foto dan kirim ke suami.  Kata dia "HAMIL". Alhamdulillah gue hamil.

Hasil Test Pack

Gue sebenarnya takut, bisa disebut tak siap dengan kehamilan ini. Ya memang karena gue pengen sekali jalan-jalan, belajar, mengejar karir dan melakukan banyak aktivitas dulu. Selain itu gue juga merasa agak tertekan dengan kondisi suami gue. Sampai akhirnya di kedatangan kita ke 2 periksa kandungan. "Duk duk duk", terdengar suara denyut jantung dari mesin fetal dopler. Seketika semua ketakutan itu runtuh. Gue akan jadi ibu. Siap atau engga siap. Allah sudah memberi amanah. Allah pasti akan memberi jalan.

Selama hamil, gue termasuk engga nyidam. Yang gue sadar dan gue pelajari adalah bahwa entah kenapa ketika hamil itu sebenarnya di otak sering kali mengingat memori-memori masa lalu, entah tentang keadaan atau pun tentang makanan yang pada akhirnya membuat kita menuturkan "Ingin makan (sesuatu)". Jadi gue berusaha sewaras mungkin untuk tidak terlalu menginginkan sesuatu.

Gue tetap menjalankan puasa ketika hamil. Karena menurut gue, gue mampu untuk puasa dan gue ingin anak gue nanti menjadi anak yang taat kepada Tuhannya. Hamil bukanlah orang sakit.

Bayi 2 Bulan

Bayik 2 Bulan Ikut Mudik ke Lebuh, Kepulauan Riau

Memasuki bulan ke 4, ada sesuatu yang aneh pada diri gue. Kalau keluar rumah, entah ke mall atau belanja di supermaket tiba-tiba aja gue roboh. Mendadak gue keluar keringat dingin, dan perlahan pandangan gue jadi terang (silau). Hal ini terjadi sampai usia kandungan 7 bulan. 

Sejak usia kandungan 35 minggu, perut gue sering sakit. Tulang punggung belakang gue ga karuan rasanya. Gue juga ga paham apakah ini namanya kontraksi atau bukan. Usia 36 minggu gue diungsiakan suami ke Solo. Akhirnya dokter memberi gue obat penguat sampai usia kandungan 37 minggu. Kata dokter yang penting nanti masuk ke usia 37 minggu, insyaallah dedek sudah siap keluar.

Bayi 5 Bulan Wisuda

Hari demi hari berlalu. Gue di Solo dengan kegerahan yang amat sangat. Gue sangat kesal memang sama suami. Gue bilang gue ga mau di Solo. Tapi tetap saja suami menyuruh gue buat di Solo. Selama di Solo kegiatan rutin gue senam di Rumah Sakit pun kandas mengingat dokter bilang gue harus bedrest. 

38 Minggu kurang sehari. Minggu, 20 Januari 2019. Perut gue mulai mulas sedari dini hari. Gue bangun, baca quran dan mencatat interval mulas. Entah kenapa gue ngrasa kalau gue mau lahiran. Jam 3 pagi akhirnya gue bangunin ibu mertua, karena gue panik setelah mendapati ada bercak di celana dalam gue. Kita ga lantas langsung ke rumah sakit. Gue bilang ke ibu kalau nanti saja setelah subuh. Akhirnya setelah subuh kita berangkat ke Rumah Sakit Triharsi (Rumah sakit rekomendasi ibu mertua gue). Dan ternyata ketika dicek, gue baru bukaan satu. 

Bolak-balik ke WC karena rasanya pengen kencing terus. Makin lama makin sakit pula ini perut. Akhirnya tepat jam 13.00 WIB gue bukaan lengkap. Gue meronta-ronta kesakitan. Jangan tanya seberapa sakitnya. Dalam otak gue, "Ya Allah ampunilah hamba, semoga semua ini engkau gantikan dengan rumah di Surga". Prosesi persalinan pun dimulai, gue disuruh mengejan ketika perut gue sakit. Satu jam berlalu. Gue berfikir kenapa bayi ini ga keluar-keluar, padahal kepala sudah terlihat. Setengah 3 sore, akhirnya dokter yang bertanggungjawab atas persalinan gue dateng juga. Setelah sebelumnya dia sibuk dengan seminarnya. Gue bingung, kenapa nasib gue naas gini. Lahiran cuma ditungguin sama embak-embak bidan. Waktu dia dateng, dia cuma bilang "Udah bu, kita sesar aja ya. Soalnya sudah satu setengah jam sejak ibu mulai mengejan, tapi bayinya tidak mau keluar. Kalau dilihat dari kondisi ibu memang bayinya susah keluar, pinggul ibu terlalu kecil dan tinggi badan ibu juga pendek." Gue saat itu yang udah pasrah banget, iya iya aja. Gue penasaran, kenapa dokter bilang sesar tapi gue gak lekas ditindak. Usut punya usut akhirnya gue mendengar bahwa gue harus dirujuk ke rumah sakit lain yang lebih besar. Ya Allah berapa lama lagi gue harus melewati ini semua.

Di dalam mobil ambulance gue cuma berdoa semoga lekas sampai, lekas selesai penderitaan ini. Pandangan gue tiba-tiba kabur. Gue hampir menyerah. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja seperti ada bisikan dan hembusan hangat yang membuat gue sadar lagi. 

Dokter-dokter itu berkumpul mengelilingi gue. Entah berapa banyak, mungkin 10. Di puncak penderitaan gue, ada dokter yang mengecek kondisi gue. Gue ingat betul rasanya, dia sepertinya memasukkan tangannya ke vagina gue terus memutar tangannya. Ughhh sakit sekali Ya Allah. Namun berkat dari dia lah, gue tetap diusahakan untuk lahiran normal. Waktu itu gue ditanya sama salah satu dokter, "Ibu perutnya sakit ya? Mules banget ya bu? Kalau iya ibu ngejan aja". Ketika mules pertama, dengan posisi miring gue mengejan sekuat tenaga. Bayi teteap tidak mau keluar. Kemudian gue kembali ke posisi awal, gue mengejan lagi. Belum juga mau keluar. Dalam hati, gue bicara sama bayi, "Dek ayo keluar, mama pengen ketemu nih". Jam 15.35 WIB gue kembali mengejan, semua dokter yang ada di ruangan itu berteriak menyemangati gue. Gue pun kembali bersemangat setelah gue merasa menyerah. "Uweeeee", akhirnya teriakan kencang itu gue dengar. Bayi gue keluar. Anak gue lahir dengan selamat dan yang paling lega adalah gue ga mules lagi, perut gue terasa longgar. 

Setelah proses persalinan yang drama itu, beberapa saat gue merasakan hangatnya si bayi di perut gue. Gak IMD memang, mungkin itulah yang terbaik buat kami saat itu. Mengingat proses persalinan kita yang tidak mudah. Setelah proses yang cukup melelahkan, dokter pun melanjutkan menjait jalan lahir bayi gue. Kata dokter, jaitannya banyak. Karena ada bengkak juga, dan sebelum dijait dokter langsung menawari KB IUD dengan periode 5 tahun. Gue pun iya iya aja,  karena jujur gue sudah sangat tidak kuat. Gue capek, gue pengen istirahat dan pengen lihat bayi gue. Gue pengen tahu berat badannya, panjangnya.

Selesai persalinan, jam 16.30 WIB akhirnya suami gue ada di samping gue. Sedari tadi gue ga nangis sama sekali. Entah kenapa setelah gue lihat wajah dan memegang tangan suami gue, tiba-tiba aja air mata itu keluar. Aku cuma bilang, "Papin uda lihat dedek? Udah diadzanin belum?". 

3 Hari setelah lahiran,
Baru juga masuk ke ruangan dokternya, dokter langsung bilang "Loh bu, itu bayinya kuning. Tolong baringkan biar saya periksa lebih lanjut". Emak mana coba yang gak syok ketika dokternya bilang gitu? Lalu sang dokter bilang, "Bu bayi-nya diopname saja ya". Gue skot jantung men. Nih yang patut kalian tahu, proses BPJS itu sulit sekali broh. Kita kalau mau make fasilitas BPJS harus punya surat rujukan dari faskes 1 yang kita pilih. Nah di kasus bayi gue ini, karena faskes 1 nya adalah puskesmas yaudah kita harus pergi ke puskesmas siang-siang. Dan you know gaes, gue tuh ga ngerti sama sekali kenapa Puskesmas di Indonesia ini kalau sudah siang hari, jam 11.00 WIB misalnya para pegawai atau petugasnya tuh ga melayani lagi jika ada yang mau pendaftaran pasien periksa. Dari situ gue uda hopeless aja pake BPJS, terus gue bilang sama suami "Uda kita pake umum aja, bayar aja gapapa. Insyaallah ada uangnya. Nanti Allah kasih lagi ke kita pasti.", suami gue yang ngliat gue gendong bayi sambil sesenggukan iba juga pasti, mengingat gue lahiran aja sulit.

Setelah kita mutusin mau pake pembiayaan umum, kita balik lagi ke dokter yang meriksa bayi. Tapi yang gue bingung adalah dokter ngejelasin A-Z bahwa ga harus hari itu juga bayi diopname, kalau pun mau diopname secara langsung eman-eman juga BPJS-nya tidak terpakai karena kita sudah bayar. Dokternya juga bilang kalau gue jangan nangis, kasihan bayinya nanti ikutan sedih. Karena dokter uda bilang gitu, yauda akhirnya kita berfikir buat mengopname bayi di esok hari. Terus gue kontrol buat gue sendiri.

Asak usuk, gue dikasih saran oleh seorang suster tentang masalah bayi. Gue disuruh nyoba ke IGD. Akhirnya berhasil, meskipun nunggu agak lama tapi ga masalah buat gue. Selama proses, gue sama suami nunggu dengan sabar. Di situ gue liat suami gue begitu kelelahan dan ngantuk, matanya merah. Lalu gue suruh dia pulang buat istirahat sebentar. Tinggallah gue di rumah sakit sendirian, wira-wiri mengurus bayi sendirian. Mana sejak pagi gue belum makan.

Bayi akhirnya dipindah ke ruang HCU, gue nangis. Pikiran gue kemana-mana. Gue ngerasa sangat bersalah, bayi baru saja lahir belum tahu apa-apa tetapi dia sudah diuji dengan berbagai macam hal. Setelah menyelesaikan beberapa urusan bayi, gue dijemput bapak gue. Gue dijemput buat beli beberapa perlengkapan buat bayi. Sepanjang perjalanan gue dikasih masukan, dikritik, dan lain-lain perihal suami gue. Nangis uda tentu lah, siapa sih orang tua yang ga khawatir dengan keadaan anaknya. Gue cuma minta mohon doanya saja.

***
Sekarang anak gue udah sehat 20 April nanti 3 bulan, udah bisa ngoceh, uda bisa miring-miring sendiri badannya. Masyaallah. 
Selanjutnya kami belajar bersama, menikmati hari-hari bersama. Gue sebagai ibu dan bayi sebagai anak gue.

Bandung, 11 April 2019 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album


Hai hai hai. Apa kabar di Tahun baru teman-teman?
Apa resolusi kalian di tahun 2019 ini?
Boleh-lah cerita-cerita sikit.

Nah untuk menyemangati teman-teman sekalian, yuk cek jadwal-jadwal puasa di tahun 2019. Selain cek jadwal puasa, kita juga bisa nih tag jadwal untuk liburan. Oke langsung saja, berikut adalah kalender muslim 2019.



Jakarta, 8 Januari 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Al Habib Info